Showing posts with label 'Abasa. Show all posts
Showing posts with label 'Abasa. Show all posts

Sunday, 1 June 2014

ABASA Optical






The ABASA Experience Your Eyes...Your Style...

You're coming to us because you have your substance versus style ratio figured out. You're looking for something that helps you see and makes you look sizzling hot! Not just a 10 but a true 20/20!

We carry the usual stuff, lenses, frames, contacts, sunglasses, and reading glasses. We offer comprehensive eye exams for you and your family.

We have a ridiculously awesome selection of designer frames you’ve never heard of. You'll be spoiled for choices, and you'll be spoiled with our services in fitting the prescription that is made just for you.

Honestly… if something looks good on you, we'll tell you. If it doesn't, we'll tell you too. We don't fit our clients with a shoe-horn… we fit you with attention.

Fit is a pretty big deal. Not only does the eyewear need to express who you are but above all it has to “fit-fit” as in comfortably and symmetrically for as long as you own your eyewear.




sumber dari: abasaoptical.ca/

Surah 'Abasa ayat 20




ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ

Kemudian jalan (baik dan jahat), dimudahkan Tuhan kepadanya (untuk menimbang dan mengambil mana satu yang ia pilih);
 
Then maketh the way easy for him ,
 
然后,他使他的道路平易。



sumber dari: mymasjid.net.my/





Teguran dan Peringatan dari Surah ABASA




My Photo


Saat menyemak Surah 'ABASA' ini, terasa betapa alpa dan jahilnya diri serta sentiasa leka dengan hal-hal duniawi. Astaghfirullahalazim..   :'(
Kita sebenarnya sedang menerima teguran dan peringatan. Sangat-sangat insaf..

1.    Jangan berpaling dari orang yang kelihatan hina/cacat/kurang dari kita

Dia memasamkan muka dan berpaling, (1) Kerana dia didatangi orang buta. (2) Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui (tujuannya, wahai Muhammad)? Barangkali dia mahu membersihkan hatinya (dengan pelajaran agama yang didapatinya daripadamu)! (3) Ataupun dia mahu mendapat peringatan, supaya peringatan itu memberi manfaat kepadanya. (4)

2.   Tidak perlu bersusah-payah melayan orang yang sombong dan merasakan diri hebat sehingga mereka tidak memerlukan ajaran Al-Quran, bukan salah kita jika mereka tidak mahu membersihkan diri mereka.

Adapun orang yang merasa keadaannya telah cukup, tidak berhajat lagi (kepada ajaran Al-Quran), (5) Maka engkau bersungguh-sungguh melayaninya. (6) Padahal engkau tidak bersalah kalau dia tidak mahu membersihkan dirinya (dari keingkarannya). (7)

3.  Segeralah melayan dan memberi ilmu kepada orang yang datang dengan perasaan takut kerana telah melanggar perintah Allah.

Adapun orang yang segera datang kepadamu, (8) Dengan perasaan takutnya (melanggar perintah-perintah Allah); (9) Maka engkau berlengah-lengah melayaninya. (10) Janganlah melakukan lagi yang sedemikian itu! Sebenarnya ayat-ayat Al-Quran adalah pengajaran dan peringatan (yang mencukupi). (11)

4.    Mereka yang mahu mengejar pahala/kebaikan, akan mengambil iktibar dari Al Quran yang sangat mulia dan terpelihara.

Maka sesiapa yang mahukan kebaikan dirinya, dapatlah dia mengambil peringatan daripadanya. (12) (Ayat-ayat Suci itu tersimpan) dalam naskhah-naskhah yang dimuliakan; (13) Yang tinggi darjatnya, lagi suci (dari segala gangguan); (14) (Terpelihara) di tangan malaikat-malaikat yang menyalinnya dari Luh Mahfuz; (15) (Malaikat-malaikat) yang mulia, lagi yang berbakti. (16)

5.   Selagi kita bernama manusia, jangan angkuh kerana kita diciptakan oleh Allah, dari air mani dan diberi tanggungjawab oleh Allah di dunia ini. Hidup bukan untuk bersukaria. Kita diberi akal oleh Allah untuk memilih jalan yang baik dan buruk. Kita akan dimatikan dan dibangkitkan dan dipersoalkan. Maka, JANGANLAH ingkar!

Binasalah hendaknya manusia (yang ingkar) itu, betapa besar kekufurannya? (17) (Tidakkah dia memikirkan) dari apakah dia diciptakan oleh Allah? (18) Dari air mani diciptakannya, serta dilengkapkan keadaannya dengan persediaan untuk bertanggungjawab; (19) Kemudian jalan (baik dan jahat), dimudahkan Tuhan kepadanya (untuk menimbang dan mengambil mana satu yang dia pilih); (20) Kemudian dimatikannya, lalu diperintahkan supaya dia dikuburkan; (21) Kemudian apabila Allah kehendaki dibangkitkannya (hidup semula). (22) Janganlah hendaknya dia kufur ingkar lagi! Sebenarnya dia belum menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. (23)

6.  Jika yang itu pun kita tidak dapat berfikir tentang kejadian diri sendiri, masih angkuh dan merasa diri sendiri hebat, lihatlah pada  makanan kita setiap hari. Bolehkah kita mencipta tumbuh-tumbuhan. Dari air hujan yang Allah turunkan, menyuburkan sayuran, bijirin, buah2an dengan masing2 mempunyai zat yang tersendiri. Adanya rumput untuk binatang ternakan, dan kita juga mendapat makanan dari ternakan itu. Renungkan setiap nikmat dari makanan kita itu.

(Kalaulah dia tidak memikirkan asal dan kesudahan dirinya), maka hendaklah manusia melihat kepada makanannya (bagaimana kami mentadbirkannya): (24) Sesungguhnya kami telah mencurahkan hujan dengan curahan yang menakjubkan. (25) Kemudian kami belah-belahkan bumi dengan belahan yang sesuai dengan tumbuh-tumbuhan; (26) Lalu Kami tumbuhkan pada bumi biji-bijian, (27) Dan buah anggur serta sayur-sayuran, (28) Dan zaitun serta pohon-pohon kurma, (29) Dan taman-taman yang menghijau subur, (30) Dan berbagai buah-buahan serta bermacam-macam rumput; (31) Untuk kegunaan kamu dan binatang-binatang ternak kamu. (32)

7.    Hari kiamat itu pasti akan tiba, dan tiada masa bagi setiap manusia untuk menyelamatkan orang lain selain sibuk menyelamatkan diri sendiri. Lupa saudara, ibu, bapa, isteri dan anak.

Kemudian (ingatlah keadaan yang berlaku) apabila datang suara jeritan yang dahsyat; (33) Pada hari seseorang itu lari dari saudaranya, (34) Dan ibunya serta bapanya, (35) Dan isterinya serta anak-anaknya; (36) Kerana tiap-tiap seorang dari mereka pada hari itu, ada perkara-perkara yang cukup untuk menjadikannya sibuk dengan hal dirinya sahaja. (37)

8.    Waktu itulah jelas kelihatan perbezaan wajah orang ‘beriman’ dan wajah orang ‘derhaka’. 

Muka (orang-orang yang beriman) pada hari itu berseri-seri, (38) Tertawa, lagi bersuka ria; (39) Dan muka (orang-orang yang ingkar) pada hari itu penuh berdebu, (40) Diliputi oleh warna hitam legam dan gelap-gelita. (41) Mereka itu ialah orang-orang yang kafir, yang derhaka. (42)



sumber dari: exlshina.blogspot.com/

10 Faedah dari Surah 'Abasa




Allah berfirman :

عَبَسَ وَتَوَلَّى(١) أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى(٢) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى(٣) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى(٤) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى(٥) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى(٦) وَمَا عَلَيْكَ أَلا يَزَّكَّى(٧) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى(٨) وَهُوَ يَخْشَى(٩) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (١٠)

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,

2. karena telah datang seorang buta kepadanya.

3. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),

4. atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,

6. Maka kamu melayaninya.

7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman).

8. dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

9. sedang ia takut kepada (Allah),

10. Maka kamu mengabaikannya.

10 Faedah dari 10 ayat di atas :

Pertama : Pada firman Allah عَبَسَ وَتَوَلَّى (Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling). Di sini Allah menggunakan dhomir ghoib (kata ganti orang ketiga). Allah mengatakan : "Dia bermuka masam". Allah tatkala menegur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan menurunkan surat ini kepada Nabi, Allah tidak berkata : عَبْسْتَ وَتَوَلَّيْتَ "Engkau bermuka masam dan engkau berpaling" (dengan dhomir mukhothob/kata ganti orang kedua). Metode ini ada dua faedah:

-         Allah tidak suka mengarahkan pernyataan yang keras langsung terarahkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, akan tetapi Allah menggunakan uslub/pola kata ganti orang ketiga. Karena sifat "bermuka masam" dan "berpaling" adalah sikap yang keras. Ini merupakan bentuk pemuliaan terhadap Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (Al-Aluusi dalam tafsirnya)

-         Agar ayat ini sebagai peringatan kepada umatnya secara umum, agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini (Al-'Utsaimin)

Kedua : Bolehnya menyebutkan cacat seseorang jika memang ada kemaslahatan dan bukan dalam rangka menghina.

Al-Baidhowi rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan 3 faedah penyebutan orang buta dalam ayat ini, beliau berkata :

وذكر الأعمى للإِشعار بعذره في الإِقدام على قطع كلام رسول الله صلّى الله عليه وسلم بالقوم والدلالة على أنه أحق بالرأفة والرفق، أو لزيادة الإِنكار كأنه قال: تولى لكونه أعمى

"(1) Penyebutan "Orang buta" sebagai pemberitahuan untuk memberi udzur kepadanya yang datang dan memotong pembicaraan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan para pembesar tersebut, dan juga (2) sebagai petunjuk bahwasanya ia (orang buta tersebut) lebih berhak untuk disikapi lemah lembut, serta (3) tambahan pengingkaran kepada Nabi, seakan-akan Allah berkata : "Dia (bermuka masam dan) berpaling dikarenakan orang tersebut buta" (Tafsir Al-Baidhoowi)

Oleh karenanya kita dapati para ahli hadits terkadang mensifati para perawi dengan cacat yang ada pada mereka, namun dalam rangka pengenalan dan pembedaan, seperti Al-'Aroj (yang pincang) dan Al-'A'masy (yang pandangannya lemah).

Ketiga : Firman Allah وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى(٣) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya, atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?)

Syaikh As-Sa'dy rahimahullah mengatakan :

{يَزَّكَّى} أي: يتطهر عن الأخلاق الرذيلة، ويتصف بالأخلاق الجميلة؟ {أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى} أي: يتذكر ما ينفعه، فيعمل (1) بتلك الذكرى

"Yaitu menyucikan dirinya dari akhlak yang buruk, dan berhias dengan akhlak yang mulia?...yaitu ia mengingat apa yang bermanfaat baginya dan iapun mengamalkan peringatan tersebut"

          Ini adalah dalil bahwasanya hidayah adalah ditangan Allah, bahkan bisa jadi orang yang miskin yang cacat justru dialah yang mengambil manfaat dari nasehatmu, berbeda dengan orang yang kaya dan terpandang.

Keempat : Ternyata Allah sama sekali tidak pernah menimbang manusia dengan ketenaran, atau terpandang dan tidaknya orang tersebut, atau dengan kekayaan dan kedudukan orang tersebut. Yang ini semua adalah tolak ukur kebanyakan manusia dalam menimbang dan menghormati orang lain. Semakin kaya, semakin terpandang, dan semakin tenar, maka akan semakin dihormati oleh masyarakat. Adapun tolak ukur timbangan Allah adalah ketakwaan. (إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ). Terlebih lagi di akhirat, tidak ada pembeda manusia kecuali keimanan. Hanya ada dua kelompok, di surga dan di neraka !!

Hendaknya semua orang kita dakwahi tanpa membeda-bedakan kondisinya. Akan tetapi bagi seorang dari semua orang sama, ia berdakwah kepada siapa saja, kepada orang kaya, kepada orang miskin, kepada orang tua, anak muda, kerabat, maupun orang jauh.

Ternyata banyak orang-orang miskin dari kalangan para sahabat yang akhirnya menjadi tokoh-tokoh pejuang Islam yang berjasa bagi Islam. Diantara para sahabat yang miskin kemudian menjadi para pejuang Islam adalah seperti Bilaal, 'Ammar bin Yaasir, Salman Al-Farisi, Abu Hurairoh, dll, yang semua para sahabat tersebut bukanlah dari golongan kaya dan terpandang !!

Kelima : Keberhasilan dakwah adalah perkara yang ghaib, maka jangan sampai karena memikirkan kemaslahatan dakwah lantas kita menimbang sesuatu bukan dengan timbangan syari'at akan tetapi dengan timbangan manusia dan materi.

Lihatlah, apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah ijtihad yang sangat beralasan, dan memiliki tujuan yang sangat mulia, agar dakwah cepat tersebar. Terlebih lagi kejadian ini terjadi di awal dakwah Nabi yaitu di Mekah, dimana kaum muslimin ditindas, sehingga Nabi sangat membutuhkan orang-orang yang kuat dan terpandang untuk masuk Islam, agar bisa membela Islam. Sampai-sampai sebagian ulama menyatakan bahwasanya kalau salah seorang dari kita melakukan apa yang dilakukan oleh Nabi sekarang mungkin ia akan mendapatkan pahala.

Akan tetapi Allah menegur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan menjelaskan bahwa ijtihad beliau 'alahis solaatu was salaam adalah ijtihad yang salah. Tidak sepantasnya Nabi membiarkan seorang buta yang semangat lalu berpaling kepada orang kafir terpandang.

Apa yang dilakukan oleh Ibnu Ummi Maktum adalah kesalahan dalam beradab jika dia mengetahui bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang sibuk mendakwahi para pembesar. Akan tetapi Allah tetap menegur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar Ibnu Ummi Maktum tidak bersedih hati, atau agar untuk diketahui bahwasanya bagaimanapun seorang miskin beriman maka ia lebih  baik dari seorang kaya yang tidak beriman, atau kurang keimanannya. (lihat perkataan Al-Qurthubi dalam tafsirnya)

Keenam :  Yang terpenting bagi dai adalah ia memperoleh pahala dengan dakwahnya, jika ada seorang miskin yang ingin mengambil manfaat darinya maka hendaknya ia serius memperhatikannya. Bukankah jika sang miskin ini beramal sholeh karena nasehatnya maka ia akan mendapatkan pahala yang banyak??. Bukankah surga banyak dihuni oleh orang miskin??.

Jangan sampai seorang da'i tujuannya adalah harta, sehingga ia lebih suka mendekat dengan orang-orang kaya dalam rangka untuk mendapat bantuan dan belas kasih dari para orang kaya tersebut.

Ketujuh : Kesalahan yang dilakukan oleh Nabi lebih utama untuk dikatakan "Tarkul Aula" (meninggalkan yang lebih utama) dan bukan sebagai sebuah dosa. Meskipun pendapat mayoritas ulama bahwasanya para nabi tidak maksum dari dosa kecil, akan tetapi langsung ditegur oleh Allah

Kedelapan : Surat ini menunjukkan motivasi untuk menyambut orang-orang miskin terutama di majelis ilmu serta memenuhi kebutuhan dan hajat mereka dan tidak mengutamakan orang-orang kaya atas mereka (As-Suyuthi)

Kesembilan : Syaikh Sa'di rahimahullah menyebutkan suatu kaidah:

لا يترك أمر معلوم لأمر موهوم، ولا مصلحة متحققة لمصلحة متوهمة " وأنه ينبغي الإقبال على طالب العلم، المفتقر إليه، الحريص عليه أزيد من غيره

"Tidaklah ditinggalkan perkara yang sudah jelas karena perkara yang tidak jelas. Tidak pula ditinggalkan mashlahat yang pasti karena maslahat yang tidak pasti".

Serta hendaknya memberi perhatian lebih kepada penuntut ilmu yang semangat dari pada yang lainnya.

Kesepuluh : Surat ini menunjukkan akan amanahnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan tidak ada satu hurufpun dalam Al-Qur'an yang disembunyikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ibnu Zaid berkata : "Kalau seandainya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyembunyikan wahyu, maka Rasulullah akan menyembunyikan ayat ini". Terlebih lagi tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bermuka masam tentu Ibnu Ummi Maktum tidak melihat beliau, karena ia buta.



sumber dari: firanda.com/

"pendedahan berani"




As-syahid Syed Qutb Rahimahullah dalam karya agungnya Tafsir Fi Zilal Quran menceritakan asbabun nuzul (sebab turun ayat) surah 'Abasa:

Abdullah Ibnu Ummi Maktum RA yang buta itu tidaklah dapat melihat Rasulullah s.a.w. yang memasamkan muka kepadanya semasa baginda asyik memberi tumpuan kepada golongan pembesar Arab Quraisy yang menjadi target "back bone" dalam menegakkan Daulah Islamiah di Madinah.

Rasulullah s.a.w. tidak silap dalam meletakkan aulawiyyat, memilih sasaran dakwah dikalangan mereka yang tegap ekonomi dan kuasa mereka, namun Allah tetap juga menegur baginda yang seolah terlupa kepada Abdullah Ibnu Ummi Maktum yang punya ketulusan hati untuk berjumpa dengan baginda.

Peristiwa ini kelihatannya seperti kecil dan remeh sahaja, tidaklah sehebat kisah peperangan Badar atau segemilang peristiwa pembukaan Makkah. Namun sekecil apa pun yang dinukilkan Allah taala dalam firmanNya, tetap mempunyai hikmah yang begitu agung. Allah taala mengungkap dalam bentuk singgungan secara sinis tetapi telus.

Tanpa selindung lagi, Rasulullah s.a.w. ditegur sebagai ingatan yang berkekalan buat diri baginda dan ummatnya. Ingatan buat pengikut setia yang juga bakal meneruskan tugas dakwah kepada sesiapa sahaja tanpa mengira darjat dan kedudukan. Ternyata impak dari peristiwa ini cukup besar.
Peristiwa ini memberi petunjuk samada di sudut akhlak, pendekatan dan strategi dakwah dalam pembinaan ummah dan negara islam itu sendiri.

Surah yang dirakam secara "gentleman" begitu rupa, zahirnya seolah bakal mencalar imej dan reputasi Rasulullah s.a.w. Namun pengajarannya itulah yang perlu dihirup sepenuhnya. Terutama kepada penerus risalah agung ini seperti pimpinan gerakan islam mahupun pimpinan negara, wajar sekali membuat penelitian dalam mengambil kira sasaran dakwah tanpa memilih bulu.

Tiada siapa nafikan, "pendedahan berani" dalam surah ini begitu berat untuk ditanggung jika ianya berlaku kepada kita yang berjiwa kerdil ini. Ianya ditayangkan sepanjang zaman, dibaca sepanjang zaman dan diperdengarkan kepada orang ramai di sepanjang zaman.

Namun bagi Rasulullah s.a.w. yang berjiwa besar itu, sudah tentu baginda pasrah dan redha terhadap teguran Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha Penyayang. Baginda sangat berkeyakinan Al-Quran itu tidak lain adalah pedoman kepada umat baginda jua.

Inilah juga bukti kasih sayang Allah taala yang saban hari terus menerus mengetuk hati nurani insan. Betapa perlunya bashirah atau celik hati nurani ini dibuka dan disingkap hijabnya untuk memahami, mengingati dan menyedarkan kita terhadap isi kandungan al-Quran.



sumber dari: captainsyazwan.blogspot.com/

siapa lelaki dalam surah 'Abasa




rama-rama terbang tinggi


bismillahirrahmanirrahim~

Abdullah bin Ummi Maktum (wafat 14 H)

Abdullah bin Umar bin Syuraikh, seorang sahabat asal Quraisy ini termasuk peserta hijrah ke Madinah rombongan pertama. Beliau sampai di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah Shalalahu ‘alaihi Wassalam. Beliau meninggal dalamperang Qadisiah membawahi sebuah brigade.

‘Abdullah bin Ummi Maktum, orang mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasululah Shalalahu ‘alaihi Wassalam. Yaitu anak paman Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid Ridhwanullah ‘Alaiha. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya ‘Atikah binti ‘Abdullah. Ibunya bergelar “Umi Maktum” karena anaknya ‘Abdullah lahir dalam keadaan buta total.

‘Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan ketika cahaya Islam mulai memancar di Makkah. Allah melapangkan dadanya menerima agama baru itu. Karena itu tidak diragukan lagi dia tidak termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, ‘Abdullah turut menanggung segala macam suka duka kaum muslimin di Makkah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya. Tetapi apakah karena tindakan-tindakan kekerasan itu Ibnu ummi Maktum menyerah? Tidak……! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan dia semakin teguh berpegang pada ajaran Islam dan Kitabullah. Dia semakin rajin memepelajari syariat Islam dan seringh mendatangi majelis Rasulullah.

Begitu rajin dia mendatangi majelis Rasulullah, menyimak dan menghafal Al-Qur’an, sehingga setiap waktu senggang selalu disinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu disebutnya. Bahkan dia sangat rewel. Karena rewelnya, dia beruntung memperoleh apa yang diinginkannya dari Rasulullah, di samping keuntungan bagi yang lain lain juga.

Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, mengharapkan semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam alias Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf dan walid bin Mughirah, ayah saifullah Khalid bin walid.

Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau.

Sementara beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba ‘Abdullah bin Ummi maktum datang mengganggu minta dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-Qur’an.

Kata ‘Abdullah, “Ya, Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda!”
Rasul yang mulia terlengah memperdulikan permintaan ‘Abdullah. Bahkan beliau agak acuh kepada interupsinya itu. Lalu beliau membelakangi ‘Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan pemimpin Quraisy tersebut. Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam tambah kuat dan dakwah bertambah lancar.

Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah bermaksud hendak pulang. Tetapi tiba tiba penglihatan beliau gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul. Kemudian Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau: “Dia ( Muhammad ) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta dating kepadanya, Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang dating kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran Allah itu suatu peringatan. Maka siapa yanag menghendaki tentulah ia memperhatikannya. (Ajaran ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti.” (QS. 80 : 1 – 16).

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril Al-Amin ke dalam hati Rasulullah sehubungan dengan peristiwa ‘Abdullah bin Ummi maktum, yang senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat.

Sejak hari itu Rasulullah tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi ‘Abdullah apabila dia datang. Beliau menyilahkan duduk ditempat duduk beliau. Beliau tanyakan keadaannya dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan ‘Abdullah demikian rupa; bukankah tegoran dari langit itu sangat keras!

Tatkala tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat dan menjadi jadi, Allah Ta’ala mengizinkan kaum muslimin dan Rasul-Nya hijrah. ‘Abdullah bin Ummi maktum bergegas meninggalkan tumpah darahnya untuk menyelamatkan agamanya. Dia bersama sama Mus’ab bin Umar sahabat-sahabat Rasul yang pertama tama tiba di Madinah, setibanya di Yatsrib (Madinah), ‘Abdullah dan Mush’ab segera berdakwah, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengajarkan pengajaran Isalam.

Setelah Rasulullah tiba di Madinah, beliau mengangkat ‘Abdullah bin Ummi Maktum serta Bilal bin rabah menjadi Muadzin Rasulullah. Mereka berdua bertugas meneriakkan kalimah tauhid lima kali sehari semalam, mengajak orang banyak beramal saleh dan mendorong masyarakat merebut kemenangan. Apabila Bilal adzan, maka ‘Abdullah qamat. Dan bila ‘Abdullah adzan, maka Bilal qamat.

Dalam bulan Ramadhan tugas mereka bertambah. Bilal adzan tengah malam membangunkan kaum muslimin untuk sahur, dan ‘Abdullah adzan ketika fajar menyingsing, memberi tahu kaum muslimin waktu imsak sudah masuk, agar menghentikan makam minum dan segala yang membatalkan puasa.

Untuk memuliakan ‘Abdullah bin Ummi maktum, beberapa kali Rasulullah mengangkatnya menjadi Wali Kota Madinah menggantikan beliau, apabila meninggalkan kota. Tujuh belas kali jabatan tersebut dipercayakan beliau kepada ‘Abdullah. Salah satu diantaranya, ketika meninggalkan kota Madinah untuk membebaskan kota Makkah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy.

Setelah perang Badr, Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an, mengangkat derajat kaum muslimin yang pergi berperang fi sabilillah. Allah melebihkan derajat mereka yang pergi berperang atas orang-orang yang tidak pergi berperang, dan mencela orang yang tidak pergi karena ingin bersantai-santai. Ayat-ayat tersebut sangat berkesan di hati ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Tetapi baginya sukar mendapatkan kemuliaan tersebut karena dia buta. Lalu dia berkata kepada Rasulullah, “Ya, Rasulullah! Seandainya saya tidak buta, tentu saya pergi berperang.”

Kemudian dia bermohon kepada Allah dengan hati penuh tunduk, semoga Allah menurunkan pula ayat-ayat mengenai orang-orang yang keadaannnya cacat (udzur) seperti dia, tetapi hati mereka ingin sekali hendak turut berperang. Dia senantiasa berdoa dengan segala kerendehan hati. Katanya, “Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang udzur sepertiku!” Tidak berapa lama kemudian Allah memperkenankan doanya.

Zaid bin Tsabit, sekertaris Rasulullah yang bertugasmenuliskan wahyu menceritakan, “ku duduk di samping Rasulullah. Tiba tiba beliau diam, sedangkan paha beliau terletak di atas pahaku. Aku belum pernah merasakan beban yang paling berat melebihi berat paha Rasulullah ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan pahaku hilang, beliau bersabda, “Tulislah, hai Zaid!”

Lalu aku menuliskan, “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fi sabilillah…..” (QS. 4 : 95).

Ibnu Ummi berdiri seraya berkata, “Ya Rasulullah! Bagaimana dengan orang-orang yang tidak sanggup pergi berjihad (berperang karena cacat)?”

Selesai pertanyaan ‘Abdullah, Rasulullah berdiam dan paha beliau menekan pahaku, seolah-olah aku menanggung beban berat seperti tadi. Setelah beban berat itu hilang, Rasulullah berkata, “Coba baca kembali yang telah engkau tulis!”

Aku membaca , “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang).” lalu kata beliau. Tulis! “Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu.” Maka turunlah pengecualian yang diharap harapkan Ibnu Ummi Maktum.

Meskipun Allah telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang udzur seperti dia untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekat untuk turut berperang fi sabilillah. Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan besar. Maka karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang.

Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memeganya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari.” Tahun keempat belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. ‘Umar memerintahkan kepada segenap Gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, ‘Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!”

Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah ‘Umar. Di antara mereka itu terdapat seorang prajurit buta, ‘Abdullah bin Ummi maktum. Khalifah ‘Umar mengangkat Sa’ad bin Abi Waqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan intruksi-intruksi dan pengarahan kepada Sa’ad.

Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. ‘Abdullah bin Ummi maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.

Pada hari ke tiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka pndahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang termegah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu.

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat ‘ Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk bendera kaum muslimin.

Sumber: Shuwar min Hayaatis Shahabah, Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya

subhanAllah~hebat~



sumber dari: notadirisendiri.blogspot.com/

susah nak mengaku kesalahan





Mujahadah Itu Pahit...


surah 'abasa, surah yg ke 80, ayat 1-11
sebelum mula,rasa seronok nak berkongsi satu kata2 dari salah seorang sahabat Rasulullah yg ak lupa namanya*sori,sebab menghafal bukan bidang ak T.T*

'marilah kita duduk,dan beriman sejenak'

oke,ak bukan nak bagi tadabur pun
sebab rasa xtercapai lagi ilmu ke tahap tu
tp, suka nak berkongsi apa yg ak tahu, dan belajar
kan ke 'sharing is caring'
ngaa :D

jom kita luangkan masa kejap bukak surah 'abasa ni

dengan nama Allah yg Maha Pengasih, Maha Penyayang

1. Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling.

2. kerana seorang buta (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya

3. dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya dr dosa

4. atau dia ingin mendapatkan pengajaran, yg memberi manfaat padanya?

5. adapun orang yg merasakan dirinya serba cukup (pembesar2 Quraisy)

6. maka engkau (Muhammad) memberi perhatian padanya

7. padahal tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).

8. dan adapun orang yg datang dgn bersegera (utk mendapatkan pengajaran)

9. sedang dia takut kepada Allah

10. engkau (Muhammad) malah mengabaikannya

11. sekali2 jgn begitu! sungguh (ajaran2 Allah) itu suatu peringatan.

oke,cukup sampai ayat 11 jek
sebelum apa2,ak nak cakap buat kali yg kedua,ak bukan nak bagi tadabur
sebab ak bukan pelajar sekolah2 yg mengaji tafsir al-Quran
ak budak MRSM,dan ak budak SAINS TULEN
ngerti kamu?
bagus!

apa yg best kat ayat ni sampai ak nak cerita dlm entri ni?
oke,ada byk sgt yg buat ak rasa ayat ni best!

~korang perasan x,ayat ni diturunkan utk menegur kesalahan Rasulullah~

asbab nuzul turunnya ayat ni :
diceritakan,pada satu hari kan,masa tu Rasulullah tengah semangat berdakwah kat pembesar2 Quraisy
nak ajak diorang masuk Islamla kan
tengah semangat keluarkan hujah2 tu,tiba2 dtg Abdullah bin Ummi Maktum ni
Abdullah mintak Nabi ajarkan kepadanya apa yg Allah ajar kepada Nabi

soklan : korang bayang,kalau korang tengah sedap2 bercakap,semangat ni bercerita dgn kawan2,tiba2 adik korang datang suruh cerita kisah cinderella.apa reaksi korang?mesti rasa cam nak tampar jek adik korang laju2 kan? *sumpah jahat klu korang buat =.=*

samalah macam Rasulullah
Rasulullah pun manusia jugak.mesti ada perasaan terganggu kan?
sebab tu,masa Abdullah datang, Rasulullah palingkan mukanya dan berwajah masam.

pastu, Allah terus turunkan ayat ni utk menegur Rasulullah
padahal,kalau pikir logik,Abdullah tu xnampak pun muka masam Rasulullah tu
dia xnampak pun Rasulullah palingkan muka Baginda
sebab apa?
sebab dia buta!kan da tulis kat atas nun.ishhhh!
dan,Abdullah xterasa pun kan?betul x?

tapi,Allah tu sgt teliti dan prihatin
benda yg kita rasa kecil camtu pun,Allah tegur
sweet x Allah?

~Rasulullah xpernah sembunyikan apa2 pun, menandakan Baginda sgt jujur~

kalau kita tengok
sesetengah orang susah nak mengaku kesalahan dia kan?
sebab apa?malulah buat salah!

tp, dalam ayat ni, terang2 Allah tu tegur Rasulullah
sebab Rasulullah buat salah
dan Baginda, xsembunyikan pun teguran Allah tu
korang bayang, dah la Rasulullah tu maksum, dihormati pulak
kalau baginda x bagitau tentang turunnya ayat ni utk menegur Baginda kat para sahabat, sahabat2 Baginda xkan tahu pun kan?
tp, Rasulullah tu tanpa segan silu menceritakan dgn detail kesalahan baginda tu, dan teguran Allah padanya tu
baik x Rasulullah?baik kan?
hee,tengokla kekasih hati siapa? ;)

~Allah tu sgt sweet~

eh,apa yg sweetnya erna ni?
xnampak pun Allah tu sweet kat dlm ayat ni =.=

haaa!tula,cuba korang baca balik tafsir kat atas tu
perasan x,byk surah2 lain dlm al-Quran,Allah guna 'kau' (utk menggambarkan Nabi Muhammad)
tp kali ni, Allah guna 'dia'
kenapakah???

oke,ada 2 situasi
korang ada anak*cehh,kawin pun belum!*
pastu,anak korang buat salah
contohnya,dia curik duit dari dompet korang sepuluh sen

situasi pertama
korang marah2 dia,ckp camni

'reza ni, kenapa curik duit mama?tahu x mencuri tu xbagus?bla bla bla~'

dalam masa beberapa saat,anak korang tu da bukak kilang air mata da
isk3 @_@!

situasi dua
korang panggil anak korang tu duduk
dan bercerita

'eh,reza tahu x,ada seorang budak ni kan,dia curik duit mama dia.padahal mencuri tu kan,xbagus.berdosa'

comfim anak korang terasa kan?
dan mesti dia mintak maaf kat korang
paling tidak pun,dia xbuat da pastu
paling penting,dia xmenangis!

significance?

Allah guna 'dia' pada beberapa ayat pertama surah ni
sebab Allah tu sweet
dan Allah tegur Nabi dgn berhemah
Allah guna cara menegur dlm situasi kedua tadi
best x?
Allah xguna 'kau' sebab Allah tahu, cara tu kurang best berbanding cara kedua tu :)

oke,itu je kot yg ak nak kongsi
kalau korang x bersetuju, silalah tegur
jgn risau, ak xmakan orang
ak makan nasik jek
itupun xmau meninggi =.=


sumber dari: darimataerna.blogspot.com/

si buta yang ingin menuntut ilmu




Bismillahirrahmanirrahim ...

Assalamualaikum Warah Matullah ,

Allahumma Solli Ala' Muhammad


Hari ini saya nak kongsikan tentang kisah sirah berkenaan Nabi Muhammad yang asyik nak berda'wah kepada pemimpin Quraisy sampai terlupa ada seorang hamba Allah yang ketika itu mahu dida'wah .

Abdullah Ibn Makhtum , si buta yang ingin menuntut ilmu daripada Nabi Muhammad SAW . Ketika itu , Nabi Muhammad sedang berda'wah kepada pembesar Quraisy . Lantas , Nabi bermasam muka kerana Abdullah Ibn Makhtum menganggu Nabi menyampaikan da'wah .

Firman Allah dalam surah 'Abasa ;

Ia memasamkan muka dan berpaling,


Kerana ia didatangi orang buta.

Dalam ayat pertama dan kedua , para ulama kaji , mengapa Allah Taala mengguna perkataan "Ia" ?

Para Ulama menyatakan , "Ia" digunakan untuk menjaga air muka dan menegur dengan cara yang lembut dan nak membesarkan nabi .


Kemudian , Allah SWT tegur nabi Muhammad kerana baginda telah bermasam muka .


Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui (tujuannya, wahai Muhammad) ? Barangkali ia mahu membersihkan hatinya (dengan pelajaran ugama yang didapatinya daripadamu)!

apabila ayat ketiga ni Allah Taala menggunakan kalimah ''engkau'' , masalah ni dah jadi tak serius .

Nak berda'wah kita kena cari yang lebih nak menerima da'wah . Sekarang ni , Abdullah Ibn Makhtum dah islam , dan dia mahukan penyucian jiwa .

Kisah ini , Nabi Muhammad ditegur kerana dia telah buat kerja yang lebih . Tugas yang telah ditugas kepada Nabi Muhammad ialah berda'wah bukan menjaga atau mengekor sahaja orang yang hendak dida'wah .

Cikgu tu tugasnya hanya mengajar dan mendidik anak muridnya , tetapi jikalau ditakdirkan anak muridnya sakit , dia pergi hantar anak muridnya ke klinik . Cikgu pergi belanja anak muridnya makan . Itukan diluar bidang tugas seorang guru ...

Hidayah tu kan milik Allah , pembesar Quraisy tu beberapa kali dah dida'wah , tetapi still menolak islam . Mengapa bila ada orang yang nak ilmu , kita tak nak kongsikan ?

Maka , setelah ditegur , nabi Muhammad terus meninggalkan pembesar Quraisy dan menuju terus ke Abdullah ibn Makthum lantas membentangkan serban baginda.

" duduklah diatas kain serban aku ,'' kata baginda Nabi Muhammad SAW kepada Abdullah Ibn Makhtum .

Persoalannya ?

Adakah nabi Muhammad berdosa ?

Oh tidak , bukankah para rasul dan nabi itu tidak berdosa ?
perbuatan itu tidak berdosa tetapi kesalahan teknikal . Salah tetapi tak berdosa .

Nak senang faham macam ni lah , makan nasi dalam cawan , salah tak ?

salah , tetapi berdosa tak ? tak bukan ?

Kesimpulannya , nabi Muhammad ditegur kerana telah membuat kerja yang agak lebih bukan kerana berdosa .

Akhir kata , nak tegur orang kena cara bilhikmah .

Kalau perasan ayat 1 hingga 3, ada tak Allah sebut nama nabi Muhammad ?

tak ada kan ? jadi kena pandai jaga hati orang . Dalam surah ni , Allah Taala tunjukkan kaedah nak tegur orang . Kenapa tak tiru ?

Serupa jugak bila kita nak mufaraqah ( keluar dari mengikut imam ) , imam tu solat lintang pukang , kita dah jadi makmum dia ni . Maka , kita niat sahaja untuk mufaraqah tetapi perbuatan still ikut imam tu .

Wallahu'alam bissawab .



sumber dari: abuqawliy18.blogspot.com/

letter as a warning of attitude




Surah 'Abasa (Arabic: عبس, "He's surly") is the 80th sura of the Koran. It belongs sura surah Makkiyah consisting of 42 verses. Named 'Abasa taken from the word' Abasa contained in the first verse of this surah. According to history, on one occasion the Holy Prophet received and talked with leaders of Quraysh what he hoped for them to Islam. In the meantime came the Ibn Umm Maktum, a blind friend who hopes that the Messenger of Allah read to him the verses of the Qur'an Allah has revealed. But the Prophet s.a.w. frowned and turned away from Ibn Umm Maktum a blind man, then God sends down this letter as a warning of attitude towards the Messenger of Allah ibn Umm Maktum it.





sumber dari: worldsharings.com/

Wednesday, 26 March 2014

Pelajaran Penting dari Pembukaan Surat ABASA (Bermuka Masam)





abasa2

Salah satu surat dalam al-Quran adalah ABASA, artinya bermuka masam. Ayat pembukaannya adalah sebagai berikut:

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, 2. karena telah datang seorang buta kepadanya. 3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). 4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?…

Kata ABASA, yang berarti BERMUKA MASAM, menjadi nama dari keseluruhan surat ini. Dalam ilmu al-Quran,  nama surat adalah sesuatu yang ditentukan langsung oleh Alloh, bukan hasil ijtihad nabi ataupun sahabat. Sehingga, kita bisa memperkirakan, pasti ada pelajaran penting yang bisa kita ambil dari istilah atau peristiwa yang terkait dengan ABASA (Bermuka Masam) itu.  Dan karena surat ABASA termasuk Makiyyah, maka pelajaran yang kita ambil lebih terkait dengan pengembangan persepsi / mindset (aqidah) dan berperilaku dalam keseharian (Akhlaq).

Salah satu pelajaran itu adalah sebagai berikut:

1. Hakikat Timbangan / Tolak ukur / Paradigma / Barometer yang Mutlak

Sebab turunnya ayat di atas, saat rosul sedang menyampaikan islam di hadapan pimpinan elit kaum qurisy,  tiba-tiba datanglah seorang buta, dan bertanya, “Ya rosul, ajari aku dari sebagian yang engkau telah diajari Alloh!”. Nabi tidak menjawab karena beliau sedang sibuk menghadapi kaum elit quraisy. Nabi bermuka masam dan berpaling dari orang buta itu. Dan karenanya, nabi ditegur Alloh SWT.

Berdasarkan keterangan di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa timbangan / tolak ukur / paradigma / Barometer yang hakikat, datangnya dari Alloh SWT, bukan hasil ijtihad manusia, atau nabi sekalipun. Hal ini sangatlah penting terutama dalam menentukan sikap / prioritas yang perlu kita ambil.

Berdasarkan ukuran logika biasa, sikap nabi yang memprioritaskan kaum elit Quraisy dibandingkan orang buta sangatlah dimaklumi. Karena jika kaum elit tersebut berhasil masuk Islam, maka akan berdampak signifikan untuk kesuksesan dakwah di masa depan.  Ternyata, Alloh berkata lain. Alloh menegur nabi agar lebih memperhatikan orang buta yang memiliki totalitas hidup buat agama dibanding kaum elit tersebut. Kenapa?, karena yang menjadi barometer Alloh bukanlah strata sosial, namun kualitas komitmen diri terhadap dakwah.

Sebagai manusia kita diberikan karunia berupa akal yang bisa digunakan untuk ijtihad. Namun, jika berhadapan dengan wahyu ilahi, maka akal itu harus tunduk kepadanya. Artinya, tidak ada ijtihad ditempat yang sudah ada dalil (nash)-nya.

#2. Urgensi Teguran dalam Pendidikan

Pelajaran kedua yang bisa kita ambil pelajaran adalah, teguran merupakan sarana pembinaan untuk menjadi lebih baik. Selain ayat diatas, dalam ayat lain Alloh SWT menegur Nabi Muhammad untuk beberapa perkara. Alloh menegur nabi, saat beliau tidak akan makan madu demi menyenangkan istrinya (QS Attahrim) dan Alloh menegur nabi saat beliau mengizinkan orang munafiq tidak ikut perang (QS Attaubah).

Secara logika, manusia terbaik saja ditegur Alloh dan disampaikan ke seluruh dunia sepanjang masa, apalagi kita.  Jadi, akan menjadi masalah, jika kita tidak memiliki kesiapan menerima teguran apalagi teguran yang datangnya dari Alloh SWT dan Nabi.

#3. Menegur Bukan Untuk Mengadili

Teguran yang disampaikan Alloh dalam ayat diatas sangatlah tegas, namun disampaikan dengan indah dan penuh kelembutan. Tidak bersifat mengadili dan mempermalukan. Di awal ayat, Alloh menggunakan orang ketiga untuk menyatakan bermuka masam, “Dia (Muhammad) bermuka masam”, bukan menggunakan kata KAMU. Baru di ayat ketiga Alloh menggunakan kata KAMU (Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya). Begitupula saat Alloh menegur dalam ayat lain, DIA menggunakan kalimat WAHAI Nabi, bukan kalimat langsung, KAMU.

Pelajaran yang bisa kita ambil, saat menegur orang, awalilah dengan panggilan yang baik, agar orang yang ditegur mau menerima teguran kita.



sumber dari: http://www.nasehatislam.com/

khasiat buah anggur







Kandungan anggur dalam surah Abasa ayat 27-29 Allah SWT berfirman, 

"Lalu kami tumbuhkan biji-bijian, anggur, dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma (di bumi itu)." 

Allah SWT menciptakan anggur di bumi, dengan memberikan begitu banyak manfaat bagi umat manusia.

Menerusi kajian secara ilmiah mengenai buah anggur, diyakini bahawa ia memiliki khasiat dari sudut perubatan. Anggur merupakan sejenis buah rendah lemak, dan disebut-sebut sebagai makanan fungsional yang banyak memberikan manfaat dari nutrisi yang dikandung kerana dapat mengurangi risiko kardiovaskular.

Sebagai salah satu buah-buahan yang paling menyihatkan, anggur mengandungi 70 kalori per setengah cawan dan merupakan sumber potassium, vitamin C dan pectin - sejenis serat yang dapat membantu mengurangi kolesterol darah. Ketika dikeringkan menjadi kismis, anggur memiliki konsentrasi gula dan zat besi yang lebih tinggi. Anggur juga mengandungi beberapa phytochemical termasuk  resveratrol yang terdapat dalam kulitnya. Dalam beberapa penelitian terhadap resveratrol yang terdapat dalam kulit semua jenis anggur, ianya baik untuk mengurangi risiko kanser payudara, kanser hati,  kanser usus dan penyakit jantung.

Setelah membaca artikel tersebut di dalam sebuah majalah ilmiah.. terfikir pula untuk membaca terjemahan Al-Quran yang menyentuh tentang firman Allah SWT mengenai buah anggur...Di antara sekian banyak buah-buahan itu, salah satu firman Allah SWT dalam Al-Quran adalah anggur. Buah yang rasanya lazat itu, disebutkan dalam Al-quran sebanyak 14 kali. Ini menunjukkan bahwa betapa banyaknya nikmat yang Allah berikan dan sediakan untuk hamba-hamba-Nya.


Telah disebutkan juga didalam Al-Quran anggur memiliki khasiat dan kegunaan yang luar biasa. Anggur yang kering disebut kismis dan kismis yang baik biasanya berukuran besar, berlemak, dan banyak mengandungi minyak, juga berkulit tipis dan bijinya sedikit. Menurut Hisham Tahlbah dalam karyanya bertajuk Ensiklopedia Mukzijat Alquran dan Hadis, kismis yang seperti itu kaya kandungan gizi. Jika dimakan bijinya akan memberi manfaat yang banyak untuk pencernaan, hati dan limfa. Tahlbah menambahkan, kismis juga dapat mempersubur hati, selain juga bermanfaat untuk menghilangkan rasa sakit di tenggorok, dada, paru-paru dan ginjal. 
Dengan (air hujan) itu, Dia menumbuhkan bagi kamu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. 




sumber dari: http://cintaimaginasi.blogspot.com/

'Abasa watawalla..







Okay, who here has heard of Surah 'Abasa? Me, personally had heard of 'Abasa watawalla.. When I was a kid, I had to memorize this surah at school. But, you know, I never really knew what it means, or even that the name of surah was exactly that - Surah 'Abasa. That was the way I was as a kid. I memorize the surahs in the Juzu' Amma, but I never knew their name. I knew Surah al-Ikhlas as "surah Qul huwallahu ahad". And then when some mention about Surah Al-Ikhlas, I'm completely oblivious. Hahah. :)

Anyways..

Surah 'Abasa is a surah of a particular story. It was a criticism from Allah swt to the Prophet s.a.w about a seemingly small harmless act - frowning.

'Abasa - it literally means - "He frowned".

Allah swt is saying to his Prophet pbuh, O my beloved Prophet, why oh why did you frowned? A stern and serious criticism to the conduct of a frown. Even to a man who cannot see. Even to a blind man.

The story behind the surah was narrated by 'Aishah r.a. like this :- One day, the Prophet pbuh was talking to the leaders of the Quraisy. They were the leaders of their tribe, the centrepoint of the eyes of the nation, the role model that the people look up to to model their lives by. The Prophet pbuh was talking to this audience eagerly in hopes that they would become Muslim. Oh, if they did become Muslims, this would be a huge advantage, a big upper-hand. They are rich. They have influences. If they enter Islam, everyone will follow suit. They are the key that will unlock the nation. Or so it seems...

As the Prophet pbuh was talking, a blind Muslim man came up to him. O my Prophet pbuh, he said. Please teach me.

The Prophet pbuh turned and frown and turned away. He asked for the blind man to wait for a moment till he's done.

Even though the Prophet s.a.w did no wrong. He was after all rudely interrupted. And the blind man was blind of course, but he was not deaf. He could very well hear that the Prophet pbuh was entertaining an important crowd. So, the Prophet pbuh did him no wrong in asking him to wait for moment. And the blind man was blind. So, he can't even see that the Prophet s.a.w had frowned at him. He probably had the biggest surprise of his life, when he found out about this Surah. Or when the Prophet pbuh relay and teach him and the Companions about this surah. Or when the Prophet pbuh had to recite this surah again and again in leading congregational prayers (solat jemaah). The blind man must have had the surprise of his life!

But Allah says no. No, you cannot frowned at this man. At all times, you must watch your conduct. You are a Muslim. You are the representative of this religion of Islam. My (Allah's) religion that I gave to mankind to be happy and prosperous in this life and the next. You must be careful of your conduct.

People are watching. And people, as kind as people are, most are judgemental. They will judge you based on your conduct. they might blame a good or bad conduct on Islam or not on Islam. On environment and upbringing maybe. Or other external or internal factors. But, nevertheless, Islam always teach its followers to have good manners, to be patient and generally be good to others, no matter who they are, rich or poor, blind or deaf, big or small, white or black, kings or servants.

And Allah says no. This blind man is a Muslim. Someone who is already committing himself to what you are teaching. Someone who earnestly wants to learn. And yet you turned him away for who? For the big guys of the Quraisy who neither want to listen or even care of what you are saying. Who are during the day and night making your life miserable. Who waits for you to make any mistake that they can jump on and publish far and wide in the media. For these people, you give more attention at the expense of an earnest man. The Quraisy and generally those who have not heard of the message of Islam and has to be told the message, this is no doubt. But not at the expense of a Muslim. Something that you hope for is not to be put over something you already have.

More than anything, this story gives the lesson that a man's judgement or assessment, is always short of the best. The best scale ever for a man to know between what is right and what is wrong, and best scale ever by which a man lives his life and builds his life with, and the best ever scale that he uses to make choices in his life - is the scale of Allah swt. And where is this scale? The Qur'an and the life and examples shown by the Prophet Muhammad s.a.w.

Wallahu'alam. :)



sumber dari: http://inmyownskin-nabilah.blogspot.com/

Wednesday, 17 July 2013

Destruction (Kieyamah)




Yaum-al-Qiyamah, are we prepared?


Allah (STW) Sent Us In This Planet (Earth), and at a time We have to return to the Allah(SWT). In The Last day of this world, Allah will Destroy this universe (What was created only for us) to start Judgment  of each person. What will happen in the time of destruction Allah Informed us in the Holy Al-Quran….Some of those verses are here.

In Surath Al-Mu'minun
18. And We send down water from the sky according to (due) measure, and We cause it to soak in the soil; and We certainly are able to drain it off (with ease).
45. Then We sent Moses and his brother Aaron, with Our Signs and authority manifest,
46. To Pharaoh and his Chiefs: but these behaved insolently: they were an arrogant people.

In Surath Ya-Sin
51. The trumpet shall be sounded, when behold! from the sepulchers (men) will rush forth to their Lord!
In Surath Al-Haj
2. The Day ye shall see it, every mother giving suck shall forget her suckling- babe, and every pregnant female shall drop her load (unformed): thou shalt see mankind as in a drunken riot, yet not drunk: but dreadful will be the Chastisement of Allah.
7. And verily the Hour will come: there can be no doubt about it, or about (the fact) that Allah will raise up all who are in the graves.

In Surath Al-'Anbya
 104. The Day that We roll up the heavens like a scroll rolled up for books (completed),- even as We produced the first creation, so shall We produce a new one: a promise We have undertaken: truly shall We fulfill it.

In Surath 'Ali `Imran
185. Every soul shall have the taste of death: And only on the Day of Judgment shall you be paid your full recompense. Only he who is saved far from the Fire and admitted to the Garden will have succeeded: For the life of this world is but goods and chattels of deception.

In Surath An-Nahl
77. To Allah belongeth the Unseen of the heavens and the earth. And the matter of the Hour (of Judgment) is as the twinkling of an eye, or even quicker: for Allah hath power over all things.
In Surath At-Tur
9. On the Day when the firmament will be in dreadful commotion.
10. And the mountains will move.
11. Then woe that Day to the rejecters (of truth);-
In Surath Al-Qiyamah
8. And the moon is buried in darkness.
9. And the sun and moon are joined together,-
10. That Day will Man say: "Where is the refuge?"
11. By no means! No place of safety!
12. Before thy Lord (alone), that Day will be the place of rest.

In Surath 'Ibrahim
42. Think not that Allah doth not heed the deeds of those who do wrong. He but giveth them respite against a Day when the eyes will fixedly stare in horror,-
43. They running forward with necks outstretched, their heads uplifted, their gaze returning not towards them, and their hearts a (gaping) void!

In Surath An-Naml
87. And the Day that the Trumpet will be sounded - then will be smitten with terror those who are in the heavens, and those who are on earth, except such as Allah will please (to exempt): and all shall come to Him in utter humility.
88. Thou seest the mountains and thinkest them firmly fixed: but they shall pass away as the clouds pass away: (such is) the artistry of Allah, who disposes of all things in perfect order: for He is well acquainted with all that ye do.

In Surath Taha
105. They ask thee concerning the Mountains: say, "My Lord will uproot them and scatter them as dust;
106. "He will leave them as plains smooth and level;
107. "Nothing crooked or curved wilt thou see in their place."
108. On that Day will they follow the Caller (straight): no crookedness (in) him: all the voices will be hushed to the Most Gracious: so that thou hearest not but murmuring.
109. On that Day shall no intercession avail except for those for

In Surath Ad-Dukhan
10. Then watch thou for the Day that the sky will bring forth a kind of smoke (or mist) plainly visible,
11. Enveloping the people: this will be a Chastisement Grievous.
12. (They will say:) "Our Lord! remove the Chastisement from us, for we do really believe!"
In Surath Al-Muzzammil
17. Then how shall ye, if ye deny (Allah), guard yourselves against a Day that will make children hoary-headed?-
18. Whereon the sky will be cleft asunder? His Promise needs must be accomplished.
In Surath Al-Qari`ah
1. The (Day) of Clamor:
2. What is the (Day) of Clamor?
3. And what will explain to thee what the (Day) of Clamor is?
4. (It is) a Day whereon men will be like moths scattered about,
5. And the mountains will be like carded wool.
6. Then, he whose balance (of good deeds) will be (found) heavy,
7. Will be in a life of good pleasure and satisfaction.
8. But he whose balance (of good deeds) will be (found) light,-
9. Will have his home in a (bottomless) Pit.
10. And what will explain to thee what this is?
11. (It is) a Fire Blazing fiercely!
In Surath An-Naba'
18. The Day that the Trumpet shall be sounded, and ye shall come forth in crowds;
19. And the heavens shall be opened as if there were doors,
20. And the mountains shall vanish, as if they were a mirage.

In Surath Al-Haqqah
13. Then, when one blast is sounded on the Trumpet,
14. And the earth is moved, and its mountains, and they are crushed at one stroke,-
15. On that Day shall the (Great) Event come to pass.
16. And the sky will be rent asunder, for it will that Day be flimsy,
In Surath Al-Mursalat
10. When the mountains are scattered (to the winds) as dust;
11. And when the messengers are (all) appointed a time (to collect);-
12. For what Day are these (portents) deferred?
13. For the Day of Sorting out.
14. And what will explain to thee what is the Day of Sorting out?
15. Ah woe, that Day, to the Rejecters of Truth!
16. Did We not destroy the men of old (for their evil)?
17. So shall We make later (generations) follow them.
18. Thus do We deal with men of sin.
19. Ah woe, that Day, to the Rejecters of Truth!
In Surath Ar-Rahman
27. The Companions of the Right Hand,- What will be the Companions of the Right Hand?
37. Full of love (for their mates), equal in age,-

In Surath Al-Ma`arij
The Day that the sky will be like molten brass,
9. And the mountains will be like wool,
10. And no friend will ask after a friend.
In Surath. Al-'Inshiqaq
1. When the Sky is rent asunder,
2. And hearkens to (the Command of) its Lord, and it must needs (do so);-
3. And when the earth is flattened out,
4. And casts forth what is within it and becomes (clean) empty,
In Surath At-Takwir
1. When the sun (with its spacious light) is folded up;
2. When the stars fall, losing their luster;
3. When the mountains vanish (like a mirage);
4. When the she-camels, ten months with young, are left untended;
5. When the wild beasts are herded together (in human habitations);
6. When the oceans boil over with a swell;
7. When the souls are sorted out, (being joined, like with like);
8. When the female (infant), buried alive, is questioned -
9. For what crime she was killed;
10. When the Scrolls are laid open;
11. When the sky is unveiled;
12. When the Blazing Fire is kindled to fierce heat;
13. And when the Garden is brought near;-
14. (Then) shall each soul know what it has put forward.
15. So verily I call to witness the Planets - that recede,
16. Go straight, or hide;
17. And the Night as it dissipates;
18. And the Dawn as it breathes away the darkness;-
19. Verily this is the word of a most honorable Messenger,
20. Endued with Power, held in honor by the Lord of the Throne,
21. With authority there, (and) faithful to his trust.

In Surath Al-'Infitar
1. When the Sky is cleft asunder;
2. When the Stars are scattered;
3. When the Oceans are suffered to burst forth;
4. And when the Graves are turned upside down;-
5. (Then) shall each soul know what it hath sent forward and (what it hath) kept back.

In Surath `Abasa
34. That Day shall a man flee from his own brother,
35. And from his mother and his father,
36. And from his wife and his children.
37. Each one of them, that Day, will have enough concern (of his own) to make him indifferent to the others.

sumber dari: secret2100.blogspot.com