Showing posts with label Al-Hujurat. Show all posts
Showing posts with label Al-Hujurat. Show all posts

Wednesday, 2 April 2014

Mendidik Anak







Khadimat (pembantu rumah tangga) sebagai mitra mendidik anak merupakan suatu proses pembelajaran yang membutuhkan waktu dan tahapan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik pelayan-pelayannya sehingga mereka sukses di dunia dan di akhirat. Mereka menjadi sahabat-sahabat beliau yang juga berkhidmat kepada agama hingga akhir hayat mereka.Hadirnya seorang khadimat di tengah-tengah keluarga yang sibuk merupakan hal yang tak dapat dipungkiri. Kesibukan suami istri dengan sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan memerlukan orang lain yang bisa membantu yaitu khadimat, khadimat pada dasarnya adalah termasuk suatu profesi yang sudah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering kali mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tangganya. Namun setelah hijrah ke Madinah, rumah tangga beliau sangat sibuk. Beliau mempunyai beberapa orang khadimat, baik pria maupun wanita. Para pembantu itu ada yang berasal dari hamba sahaya yang dibeli kemudian di merdekakan oleh beliau, dan ada pula yang memang telah merdeka. Diantaranya adalah: Anas bin Malikradhiyallahu anhu yang membantu keperluan-keperluan Nabi termasuk mengambil air, Abdullah bin Mas`ud radhiyallahu anhu yang menyiapkan sandal dan siwak Nabi, `Uqbah bin Amir radhiyallahu anhupenuntun bighal Nabi apabila beliau bersafar, Asla` bin Syuraik pengurus unta tunggangan Nabi, Aiman bin Ubaid yang mengurus keperluan dan cucian Nabi, Bilal bin Rabah radhiyallahu anhu, Abu Dzar Al Ghifariradhiyallahu anhu, dan Sa`ad radhiyallahu anhu. Sementara dari kaum wanita adalah: Ummu Aiman, Salma Ummu Ra`fi, Maimunah binti Sa`ad radhiyallahu anha, Khudrah, Radhwa, Raisyahah, dan lainnya.Para sahabat radhiyallahu anhu juga menjalani hidup dengan kesederhanaan yang maksimal, mereka mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri tanpa bantuan seorang khadimat. Ali bin Abi Thalibradhiyallahu anhu mennuturkan kehidupan rumah tangganya, "Wahai Ibnu A`bad, maukah aku beritahukan kepadamu tentang diriku dan Fatimah?. Istriku menggiling gandum sendiri sehingga menimbulkan bekas ditangannya, dia mengambil air dengan geriba sehingga berbekas di bahunya, dia menyapu rumah sehingga debu-debu menempel di bajunya, dan dia memasak sendiri sehingga api tungku mengotori pakaiannya." Suatu hari Ali radhiyallahu anhu bersama Fatimah radhiyallahu anha datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. agar diberi seorang pembantu rumah tangga. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:"Maukah aku berikan kalian berdua sesuatu yang lebih baik bagi kalian daripada permintaanmu itu. Jika kamu berdua hendak tidur, ucapkanlah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali. Hal itu lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pelayan." (Hr. Bukhari - Muslim)

Dan akhirnya mereka memilih amalan itu daripada seorang pembantu. Asma` binti Abu Bakar radhiyallahu anhu juga menuturkan kehidupan rumah tanggannya, bahwa: "Saya berbakti kepada Zubair suamiku, dengan mengurus semua pekerjaan rumah tangganya. Ia mempunyai seekor kuda dan akulah yang mengurusnya, mencarikan rumput dan aku pula yang merawatnya. Aku yang memberinya minum, mengisi kantong airnya, membuat tepung, dan mengangkat air di atas kepalaku dari sumur yang berada di kebun suamiku yang berjarak dua pertiga farsakh (kurang lebih 5 km)."

Karena kesibukan seorang ibu di luar rumahnya sehingga khadimat menjadi ibu kedua bagi anak-anak, karena dia mengambil alih tugas dan tanggung jawab di rumah. Sehingga kadangkala hubungan antara khadimat dengan anak-anak malah lebih akarab daripada dengan ibunya sendiri, hal ini akan berdampak positip dan negatip. Pada suatu sisi anak-anak akan terbiasa mandiri dan terbiasa melakukan sesuatu kegiatan sendiri tanpa ibu, kita tidak akan khawatir bila anak-anak ditinggal lebih lama sehingga sang anak bersikap tidak cengang. Namun pada sisi yang lain anak-anak akan lebih patuh dan penurut terhdap khadimat, karena mereka setiap hari dilayani oleh khadimat yang tampil sebagai ibu dibandingkan ibunya sendiri. Walaupun seorang khadimat mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga dengan baik, tetapi dalam hal mendidik anak tetap ada pengawasan dari orang tuanya, idealnya pendidikan anak dapat wakilkan kepadanya setelah anak itu dapat berkomunikasi secara lisan. Minimal anak dapat bercerita kepada ibunya tentang apa yang dilakukannya seharian bersama khadimat. Hendaknya tidak membiarkan khadimat merusak akidah anak-anak kita, dengan menakut-nakutinya dengan makhluk ketika anak-anak rewel atau menangis. Seperti: kalau nakal nanti ditangkap polisi, kalau tidak mau tidur nanti digigit tikus, awas ada setan, dan sebagainya. Melalui ucapan dan perbuatan, bahkan mimik dan raut wajah khadimat dapat mempengaruhi moral, spiritual, dan sosial sang anak. Karena hal ini dengan mudah direkam dalam memori otak sang anak, yang akan berdampak hingga ia dewasa.

Khadimat sebagai "ibu kedua" akan bisa merusak tatanan keluarga, jika sang ibu menyerahkan semua urusan rumah tangga kepadanya. Ibu yang bijaksana hanya akan memberikan tugas sebatas keperluan fisik saja, misalnya mencuci pakaian, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, dan sebagainya. Karena khadimat bukanlah mahram, sehingga bagaimana kita memperlakukannya sesuai dengan statusnya yang bukan mahram. Jangan sampai kebutuhan-kebutuhan suami juga diserahkan kepadanya, yang akhirnya suami ikut "mengurus" khadimat.

Namun hal itu tidak akan terjadi apabila kedua belah pihak (suami-istri dan khadimat) memahami hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah bukan hanya sebatas majikan dan pembantu. Sebab khadimat juga adalah manusia biasa, ia punya perasaan yang sama dengan kita dan ia punya hak yang harus dipenuhi selain tempat dan waktu istirahat, pakaian, makanan dan upah yang sesuai.
Islam mengajarkan bahwa manusia dihadapan Allah  subhanahu wata’ala adalah sama, yang membedakan manusia dengan yang lain dan yang dimuliakan oleh Allah  subhanahu wata’ala adalah taqwanya. Peranan khadimat tidaklah sekecil gajinya, pada dasarnya khadimat adalah pekerjaan besar dan mulia yang bernilai ibadah jika sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seluruh Nabi dan Rasul adalah khadimat untuk berkhidmat kepada ummatnya, Bahkan para malaikat diciptakan untuk berkhidmat kepada manusia. Khadimat bukanlah pekerjaan yang rendah sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammemuliakan pembantu-pembatunya.

Kesuksesan yang diraih seseorang atau sekelompok orang pada hakikatnya bukanlah semata-mata hasil infirodiyyah (perseorangan), namun membutuhkan dukungan istrinya di rumah termasuk pembantunya yang mengurus rumah tangganya. Untuk mewujudkan sebuah rumah sebagai "baiti-jannati" (rumahku surgaku) bukan hanya tanggung jawab suami istri, tetapi tanggung jawab seluruh anggota keluarga termasuk pembantu.Majikan dan pembantu sama kedudukannya dihadapan Allah  subhanahu wata’ala:
 
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu, sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujurat: 13)

Jika khadimat seorang muslim, maka haknya sama dengan muslim yang lain: 
 
"Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman." (Al Hijr: 88)


Ajarkan akhlak kepada mereka sebagaimana akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, misalnya: Tidak boleh masuk ke kamar tanpa izin, tidak boleh mengintip atau menguping pembicaraan orang lain. Ajarkan dan perintahkanlah mengamalkan adab-adab sunnah sehari duapuluh empat jam baik kepada dirinya sendiri maupun kepada anak-anak. Tekankan kepada anak-anak bahwa khadimat adalah sosok yang harus dihargai untuk tidak menyuruh khadimat seenaknya, dengan demikian secara tidak langsung kita mendidik anak-anak untuk mau terampil dalam pekerjaan rumah tangga. Sehingga dengan sendirinya ia bisa melakukan pekerjaan yang mampu dia kerjakan. Dan menanamkan pada seluruh anggota keluarga bahwa khadimat bukanlah seorang budak, tetapi ia adalah bagian dari keluarga kita. Ajaklah mereka untuk melaksanakan shalat berjamaah di rumah dan memberi pengetahuan agama (Ta`lim wat-Ta`lum) karena ia adalah tanggung jawab kita.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menjelang sakaratul maut masih sempat berwasiat, "Kerjakanlah shalat dan perlakukanlah dengan baik apa yang berada dalam kekuasaanmu (hamba sahaya)."



sumber dari: http://wiwidia.blogspot.com/

Wednesday, 19 March 2014

Husnuzh-zhon, sulitkah?







Di dalam sebuah ayat al-Qur’an Alloh subhanahu wata’ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. (QS al-Hujurot: 12)
Adalah para salaf kita yang sholih, apabila mendapati apapun dari orang lain sesutau yang sekiranya tidak disuka oleh jiwa mereka tidak berpurba-sangka. Malah justru sebaliknya. Mereka meminta alasan untuk membenarkan apa yang didapatinya. Mereka meminta alasan bukan karena ingin mendustakan apa didapatinya. Dan inilah husnuzh zhon. Berbaik-sangka. Demikianlah pesan-pesan hikmah para salaf kita. Agar kita senantiasa berhusnuzh zhon terhadap saudara kita.

Adalah Abu Qulabah mengatakan: “Apabila kalian mendapati sesuatu dari saudaramu yang kamu tidak sukai maka mintalah alasan darinya. Seandainya kamu tidak mendapatkannya darinya maka katakan kepada dirimu sendiri: “Sesungguhnya dia punya alasan yang tidak aku ketahui”. (Roudhotul uqola: 184)

Dan adalah Abdul Aziz bin Umar mengatakan: “Ayahku pernah berkata kepadaku; “Wahai anakku, apabila kamu mendengar satu kata dari seorang muslim maka janganlah kamu menafsirkannya dengan keburukan selagi kamu masih mendapati ada tafsiran baik yang lain yang memungkinkan.” (al-Hilyah : 5/278)

Adalah Hamdun pernah berkata: “Apabila salah satu saudara kalian tersalah maka mintalah tujuh puluh alasan agar kalian bisa memaklumkannya. Apabila dengan tujuh puluh alas an tersebut hati kalian tetpa tidak bisa menerima sehingga kalian bisa memaklumkannya, maka ketahuialah sesungguhnya yang tercela adalah diri kalian sendiri, dimana tatkala tujuh puluh alasan telah jelas bagi seorang muslim ia tetap tidak menerimanya.” (Syuabul Iman: 7/11198)

Apabila demikian hikmah para salaf kita tentang husnuzh zhon, bagaimana mereke bisa pernah sakit hati? Lalu bagaimana dengan kita? Mengapa sering sekali jiwa ini menderita? Mengapa sering sekali sekali kita sakit hati? Apakah husnuzh zhon itu hanya mudah bagi para salaf dan sangat sulit bagi kita? Sehingga kita sering sakit hati.

Padahal husnuzh zhon itu merupakan perkara yang sangat baik dan tidak ada celanya. Bagaimana tidak? Husnuzh zhon ialah sesuatu yang apabila kita tepat maka kita diberi pahala dan apabila kita meleset pun tidak akan berdosa.

Sungguh ketika sebagian hikmah para salaf adalah senantiasa hus nuzh zhon, berarti mereka adalah para salaf yang senantiasa berusaha menumpuk pahala dan tak ingin berdosa. Semoga Alloh menjadikan kita sebagiamana mereka.  

Amin.



sumber dari: http://alghoyami.wordpress.com/

Tuesday, 14 January 2014

Surah Al-Quran yang boleh diamalkan Ibu mengandung




a heavily pregnant woman


 Salam Telusuri
Menambahkan lagi info semasa
Suri jumpa artikel nih di fb
Alhamdulillah ada jugalah Suri amalkan
Suri dan semua para mommies rasanya mengharapkan zuriat kita
lahir sebagai anak yg Soleh ,Mithali dan kuat Imannya..
InsyaAllah
Amalan bacaan Surah Al-Quran yang boleh diamalkan Ibu mengandung:
1) Untuk mudah beranak:Membaca ayat2 selusuh
2) Untuk mudah beranak: Surah Maryam.
3) Untuk cantik/comel: Surah Yuusuf.
4) Untuk cerdik: Surah Luqman
5) Untuk kuatkan rahim: As Soffat - khususnya
kepada ibu yang selalu keguguran.
6) Untuk banyak susu: al Hujuraat
7) Untuk anak kuat iman: al Ikhlas
8)Untuk anak bijak / nak jadi saintis /
doktor: Ayat2 yang ada kaitan dgn
penciptaan alam maya: 
cthnya: Surah al Ghaasyiah.

9) Kuat agama / ulamak: Ayat2 yang ada
kaitan dengan ulamak.
Cthnya: Ayat 28 Surah Faathir.
InsyaAllah



sumber dari: telusurisuri.blogspot.com

Wednesday, 1 January 2014

so make peace between your brothers






Surat Al-Hucurat, 10
“The believers are brothers, so make peace between your brothers and have fear of Allah so that hopefully you will gain mercy.” 


For example, how can we make peace with Syria? Only when we join with them. What about Pakistan? The problems will go away only when we join with them. Iraq? The same. So Muslims should unite and if there is a problem between them, that problem should be solved, they should be reconciled.  Listen, “…make peace between” says Allah. If there is a problem, if they are cross, you should eliminate that problem, make peace between them and make them real brothers and sisters.



sumber dari: en.harunyahya.net

Al-Hujurat dan Ar-Rahman Versi Syaikh Mahmud al-Husari




DI SUATU SAAT:

“Mendekati tengah malam, hujan deras yang mengguyur sejak adzan Isya tadi, mulai mereda. Tak ada orang keluar rumah. Jalanan sepi. Suara kodok, sisa gerimis, serta sisa tetes air di pancuran menambah suasana semakin sunyi. Dari kejauhan, di arah timur laut rumahku, aku mendengar sebuah resital sesayup sampai, dipancarkan dari sebuahloudspeaker yang kuyakin mereknya TOA. “Surat Al-Hujurat dengan qari’ bersuara tebal itu…” Dan malam, seperti semakin menemukan warna gelapnya. Membeku, semua yang tersimpan di masa lalu, datang kembali: ta’ perna (tidak kerasan)


Pernahkah Anda punya pengalaman seperti ini? Atau mungkin Anda pernah "merasakannya seolah-olah" hingga berulang-kali (déjà vu)?


sumber dari: tretans.com

Pendidikan Multikultural Perspektif







Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 

1) pendidikan multikultural, 
2) kandungan surat al-Hujurat ayat 13, 
3) pendidikan multikultural perspektif surat al-Hujurat ayat 13. 

Penelitian ini menggunakan metode riset kepustakaan (library research) dengan teknik analisis tahlily maudhui. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pendidikan multikultural mengedepankan kesejajaran di antara semua pelaksana pendidikan. Tanpa mengunggulkan satu etnik dengan etnik yang lain. Yang melebih utamakan pada sifat dasar manusia dalam tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia. Pendidikan multikultural dinilai mengakomodir kesetaraan dalam perbedaan, merupakan sebuah konsep yang mampu meredam konflik vertikal dan horizontal dalam masyarakat yang heterogen di mana tuntutan akan pengakuan atas eksistensi dan keunikan budaya kelompok etnis sangat lumrah terjadi. 

Masyarakat dicitakan mampu memberikan ruang yang luas bagi berbagai identitas kelompok untuk melaksanakan kehidupan secara otonom. Hal yang paling utama dari makna dan pemahaman pendidikan multikultural ialah kesejajaran budaya. Masing-masing budaya dari manusia atau kelompok etnis tertentu harus diposisikan sejajar dan setara. Tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih dominan. 

Surat al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa seluruh manusia berhak menerima Al-Qur'an. Ayat ini menjelaskan bahwa penciptaan manusia dari laki-laki dan perempuan yang satu. Meyakinkan persamaan dalam perbedaan dari berbagai macam suku, bangsa yang intinya agar saling kenal mengenal pada hakikatnya yang dinilai Allah hanyalah ketakwaannya karena hanya di sisi Allah-lah orang yang paling mulia menurut Allah. Pendidikan multikultural perspektif surat Al-Hujurat ayat 13 lebih mengutamakan hubungan sosial kemasyarakatan sesama antar manusia. 

Ini sebagai respon atas kesamaan derajat kemanusiaan manusia yang pada hakikatnya manusia yang paling mulia di antara manusia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa menurut Allah. Tidak ada yang tahu di kalangan manusia tentang ketakwaan seseorang kecuali Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi mahasiswa, para pengajar, para peneliti dan semua pihak yang membutuhkan di lingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.  



sumber dari: library.walisongo.ac.id

sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa







“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani.” Al-Hujuraat ayat 12

"O you who have believed, avoid much [negative] assumption. Indeed, some assumption is sin. And do not spy or backbite each other. Would one of you like to eat the flesh of his brother when dead? You would detest it. And fear Allah ; indeed, Allah is Accepting of repentance and Merciful."



sumber dari: eyansss.blogspot.com

TO INCREASE LOVE AND UNITY




Logo


1. Know your duty toward your fellow Muslim. "A Muslim is a Muslim's brother. He does not wrong him. If anyone cares for his brother's needs, God will care for his needs. If anyone will remove his brother's anxiety, God will remove his anxiety on the Day of Judgment and if any conceals a Muslim's secret, God will conceal his secrets on the Day of Judgment" (Bukhari).
In our personal dealings, we should remember God's order as mentioned in Surah al-Hujurat.

2. Be gentle in criticism with Muslims and tough with unbelievers. "They are hard on disbelievers but merciful to each other" (Quran). Presently, however, we see the opposite. We seem to love non-Muslims more than fellow Muslims.


3. Protect each other. "Believers, men and women, are protectors Of one another" (9:71). During the reign of caliph Umar, he received the news that one Jewish tailor sewed a dress for a Muslim woman that he designed intentionally to fall apart in the bazaar so as to humiliate her and disgrace the Muslim community. This was enough for the caliph to threaten war on the entire tribe. He did not ask whether the woman was a good Muslim or a bad one, whether she prayed five times a day and paid the poor-due, etc. But these days we find a reason not to support a Muslim in his difficult days by putting all kinds of labels on his faith and practices. Finally, whatever we do, we should do it with the belief that we are doing it for the sake of God. "Say: My prayer, my sacrifice, my life and my death are for God, the Lord of the Worlds" (6:16).



sumber dari: islam-usa.com

Psychological & Social Damage






Man – and animals – behaves properly when in a stable, normal mental state, according to the observations of psycho-sociologist Charles Kort and some of his colleagues. The study showed 2,567 cases of people who live in noisy areas and heavy traffic in Holland. Psychological studies on industrial workers indicate that those who are subject to high-density noise suffer from irritability, dizziness, headaches, moodiness and anxiety.

Children are naturally more affected by noise than adults. The mental capacities of school pupils are influenced by the surrounding noise, for example near airports where they feel distracted and frustrated. Children under 7 are the most sensitive to noise, as they become annoyed and often cry if they hear a sudden loud sound.

Soft music calms the nerves, whereas the loud music and jerky movements performed by young people in nightclubs leads to severe tension due to the effect of amplifiers, not to mention the auditory harms indicated earlier.

Calmness relaxes the nerves, noise irritates them: Concentration and deep contemplation need a calm atmosphere to allow the person to be creative. The noise from a wedding down the street to me has compelled me to stop at this point until the street is calm once again.

Generally, life in a big city like Cairo is full of noise. An intellectual can hardly be creative in such an atmosphere. Like all major cities, the roaring of machines and the clinging of steel conceal the humming of bees and the twittering of birds. Chimneys and discharged toxic smokes replace the gardens and parks that gave sweet smells. Noise also disturbs those sleeping, leading to muscular contractions, so that one wakes up feeling tired rather than fresh.

Now, in the Glorious Quran, are the verses that call to avoid noise, such as the following:

“Neither speak thy prayer aloud, nor speak it in a low tone, but seek a middle course between.” (Surat Al-Israa:110). 
“O you who believe, raise not your voices above the voice of the Prophet. Nor speak aloud to him in talk, as you may speak aloud to one another, lest your deeds become void and you perceive not. Those that lower their voices in the presence of the apostle of Allah – their hearts has Allah tested for piety: for them is forgiveness and a great Reward.” (Surat Al-Hujurat:2-3). 
“And be moderate in thy pace, and lower thy voice, for the harshest of sounds without doubt is the braying of the ass .” (Surat Luqman:19).


sumber dari: imamsalim.com

Syarat Syahadat Laa ilaha illallah






yarat-syarat ini harus dipenuhi oleh orang yang melafalkan kalimat tauhid ini agar berfaedah baginya, yaitu sebagai berikut:

1- Berilmu dan memahami kandungan makna dan rukun syahadat ini sehingga hilang kebodohan terhadap kandungan makna dan rukun kalimat ini. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda yang artinya:“Barangsiapa yang mati dalam keadaan ia mengetahui (kandungan makna) ‘laa ilaha illallah’ (bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah), pasti masuk surga (HR. Muslim).
2- Meyakini segala yang ditunjukkan oleh kalimat ini tanpa ada keraguan sedikitpun. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:”Sesungguhnya orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu”. (QS. Al-Hujurat:15).
3- Menerima konsekuensi (tuntutan) kalimat ini berupa beribadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan beribadah kepada selain-Nya tanpa adanya penolakan yang didasari keengganan, pembangkangan,dan kesombongan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:”Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) apabila diucapkan kepada mereka “laa ilaha illallah (Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah) maka merekapun menyombongkan diri(35). Dan mereka berkata,“Apakah kita akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kita karena penyair yang gila”.(QS. Ash-Shaffat:35-36).
4- Tunduk dan berserah diri terhadap segala tuntutan kalimat ini tanpa mengabaikannya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:”Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah dalam keadaan berbuat kebajikan, maka sungguh dia telah berpegang dengan tali yang sangat kuat (kalimat Laa ilaha illallah).” (QS.Luqman:22)


 5- Jujur dalam mengucapkan kalimat ini dengan disertai hati yang membenarkannya. Jika seseorang mengucapkan kalimat ini namun hatinya mengingkari dan mendustai nya, maka dia orang munafik tulen. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:”Dan diantara manusia ada yang mengucapkan,”Kami beriman kepada Allah dan hari akhir”, padahal mereka tidak beriman(8). Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beiman. Tidaklah mereka menipu kecuali diri mereka sendiri sementara mereka tidak meyadari(9). Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit mereka. Dan mereka mendapat azab yang pedih karena kedustaan yang mereka lakukan. (QS. Al-Baqarah:8-10).



sumber dari: smilecodes.com

maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya





Na'im Nikmat @blog


“Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.”
(Surah al-Hujurat, ayat 6)



sumber dari: naimnikmat.blogspot.com

Bahana cinta Facebook




Facebook


TEKNOLOGI dalam era globalisasi telah mengalami kemajuan yang selari dengan media massa dalam menunjukkan persaingan untuk memberikan informasi tanpa batasan. Dunia kini menghadapi transformasi informasi sehingga melahirkan peradaban baru yang dapat memudahkan manusia untuk saling berhubungan serta meningkatkan sistem komunikasi sosial. Media massa seperti surat khabar, radio, televisyen, dan internet sebagai medium komunikasi mampu memberi pengaruh yang luas sejak beberapa abad yang lalu.

Facebook merupakan medium komunikasi yang termudah dan moden di zaman ini. Malah ianya juga telah memberi impak besar kepada masyarakat khususnya generasi baru zaman ini dari sudut penyebaran maklumat semasa dan menjadi ruang perkongsian ilmu dengan lebih luas. Disamping itu, laman sosial facebook juga kini menjadi kemudahan utama kepada masyarakat Malaysia khususnya untuk berkomunikasi pada jarak jauh selain telefon bimbit yang saban hari digunakan. Selain itu, ianya juga merupakan laman sosial paling popular dalam kalangan remaja di Malaysia. Statistik menunjukkan bahawa, 34% daripada jumlah pengguna Facebook di Malaysia adalah dalam kalangan generasi muda remaja yang berumur antara 18 hingga 24 tahun. Manakala di peringkat dunia pula, Malaysia menduduki tangga ke-17 pengguna Facebook teramai sebagaimana yang telah dilaporkan oleh laman sesawang www.socialbakers.com.

Kita tidak dapat menafikan kesan positif yang terdapat pada Facebook, namun kita perlu mengambil perhatian lebih terhadap kesan atau impak negatif yang datang daripada penyalahgunaan laman sosial yang paling berpengaruh ini. Facebook semakin mendapat tempat di hati remaja di Malaysia khususnya untuk berhibur, menghabiskan masa dan meluahkan rasa isi hati walaupun mereka sedar segala aktiviti di laman sosial tersebut dapat diakses oleh orang ramai hatta seluruh dunia.

Pergaulan bebas tanpa batasan pada zaman yang serba maju ini tidak lagi bermaksud bertemu secara fizikal sahaja, malah fenomena pergaulan menerusi laman sosial turut disifatkan sebagai pergaulan bebas tanpa batasan dan mampu menyebabkan individu tersebut terjebak dalam kes-kes keruntuhan moral dan sebagainya. Acapkali kita dipaparkan dengan kes-kes yang melibatkan remaja berpunca dari percintaan di alam maya Facebook dan mangsa utama adalah golongan wanita.

Bermodalkan ayat manis dan wajah yang sedikit kacak, segelintir lelaki telah Berjaya menjerat cinta gadis remaja dengan menggunakan Facebook untuk menjadi pemuas nafsu mereka. Sasaran mereka,adalah gadis remaja yang kemaruk melayari laman sosial untuk mencari kenalan hingga jatuh cinta dan seterusnya menyerahkan kehormatan diri.

Terdapat juga kes lain yang.membabitkan penipuan alam maya ini. “Kerana Internet, maruah saya tergadai, malah hidup saya musnah. Bukan itu saja, wang simpanan dan juga pinjaman pelajaran, lebur begitu saja kepada bekas teman lelaki” Anis 21 salah seorang mangsa yang pernah di lamar cinta Facebook oleh jejaka hidung belang. Penipuan ini juga sering dikaitkan dengan warga asing yang berjaya memanipulasikan laman Facebook terhadap warga Malaysia untuk kepentingan tertentu seperti sindiket wang dan pelbagai lagi.

Kesimpulannya, Facebook pada asasnya adalah untuk menghubungkan antara satu dengan yang lain dan saling kenal mengenali sebagaimana Firman ALLAH bermaksud:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi ALLAH ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" Surah al Hujurat :13.

Namun, etika yang sepatutnya diamalkan ketika menggunakan laman sosial ini tidak dipraktikkan oleh para pengguna sehingga mendatangkan cela kepada kebaikan Facebook itu sendiri. Justeru , jadilah pengguna Facebook yang beretika serta bijak membahagikan masa ketika menggunakannya agar diri tidak terus hanyut dalam keasyikan alam maya Facebook.



sumber dari: sinarharian.com.my

Hubungan Iman dengan Amal




hauzah as-sidiqah az-zahra'


Perlu kami ulang bahwa iman adalah kondisi jiwa yang timbul atas dasar pengetahuan dan kecenderungan. Iman ini menuntut sang mukmin agar bertekad dan berkehendak secara global untuk komitmen pada konsekuensi-konsekuensinya, juga menuntut agar melakukan perbuatan yang sesuai dengan imannya. Oleh karena itu, seseorang yang mengetahui hakikat sesuatu, namun bermaksud untuk tidak mengamalkan konsekuensi dari pengetahuan itu, sebenarnya ia belum beriman kepada sesuatu itu. 

 Begitu pula orang yang ragu untuk mengamalkannya. Allah SWT berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.” Katakanlah kepada mereka, “Kalian belum beriman, akan tetapi katakanlah bahwa kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.’” (QS. Al-Hujurat: 14)

Iman yang hakiki itu bertingkat-tingkat. Hanya, tidak setiap tingkat akan selalu mendesak pemiliknya untuk melakukan konsekuensi praktisnya. Karena iman yang lemah, sebagian dorongan hawa-nafsu dan nafsu ammarah-nya menggiring dirinya kepada maksiat, meski tidak sampai membuatnya senantiasa berbuat maksiat dan melanggar seluruh konsekuensi iman tersebut. Tentunya, semakin kuat dan sempurna iman seseorang, semakin besar pengaruhnya untuk melakukan amal perbuatan yang sesuai dengan keimanannya.


Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya, iman itu menuntut suatu perilaku yang menjadi kon-sekuensinya. Dan, kadar pengaruh iman itu tergantung kepada kuat-lemahnya iman tersebut. Juga, tekad dan kehendak seseorang itu dapat menentukan dirinya untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan yang dituntut oleh imannya.



sumber dari: hauzah-jakarta.com

Tuesday, 12 November 2013

acara radio orang Kafir adalah bathil!?








Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalamu'alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh


Ikhwaanii wa Akhwaati yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta'ala...


Ada sebuah narasi pertanyaan yang menyebutkan, “Apakah seluruh ideasi acara radio yang bersumber dari orang Kafir adalah bathil!?

Cukup sulit untuk menjawab pertanyaan seperti itu, meski secara umum dapat di jawab; “Bisa ya, bisa tidak.” Ketika jawaban-nya adalah “bisa tidak bathil”, bukan mustahil jawaban ini akan di anggap mencampur-aduk antara haqq dengan bathil.

Sesungguhnya bukan mencampur-aduk antara haqq dengan bathil seperti itu sehingga pengelolaan acara radio menjadi tidak bathil. Sebab haqq tetaplah Haqq, dan bathil adalah Bathil. Meski demikian, insyaAllah terdapat 3 poin ‘hujjah’ yang dapat meluruskan permasalahan ini dengan cara baik dan benar;

  1. Ketika (semisal) acara “Talk Show” radio menawarkan budaya maksiat seperti selingkuh—kumpul kebo—pesta pora—atau berbagai bentuk maksiat lain di udarakan, ternyata semua itu diminati juga oleh mayoritas umat Islam. Lantas dalam hal ini, apakah “Talk Show”  atau budaya maksiat-nya yang harus dimusnahkan (diharamkan)!? Mari kita analogikan “Talk Show” sebagai suatu bangunan rumah, dan budaya maksiat sebagai tembok rumah yang retak. Maka tentu saja kita tidak akan merubuhkan rumah untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Oleh karena itu, jadikanlah “Talk Show” sebagai kendaraan bagi siaran radio  untuk menandingi “Talk Show” sebelumnya. Sebab "Talk Show" insyaAllah akan menjadi halal, apabila ia mengusung perihal baik dan benar, kemudian mengomunikasikannya dengan cara (lebih) profesional—kreatif—serta membahagiakan hati setiap pendengar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl {16}:126).

  1. Tidak kita pungkiri lagi bahwa segala bentuk ilmu—pengetahuan—adat—budaya—maupun seni, bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala yang menitipkan-nya kepada siapa pun manusia yang dikehendaki-Nya. Dengan demikian ilmu—pengetahuan—adat—budaya—serta seni, insyaAllah baik dan benar adanya jika mereka tidak di salah-gunakan menjadi syirik, atau perbuatan-perbuatan lain yang di benci oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Firman-Nya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat {49}:13).

  1. Islam juga tidak melarang umat-nya berteman—bermasyarakat—serta berniaga dengan orang-orang Kafir, atau untuk perkara ini kita menyebutnya sebagai muamalah (hubungan kemasyarakatan). Adapun batasannya, yakni selama hubungan itu tidak bersinggungan dengan masalah Akidah. Jika mereka ternyata memasuki wilayah Akidah, maka kita berkewajiban menghentikannya dengan cara yang baik dan benar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Allah adalah Mahakuasa, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena dien dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah {60}:7&8).



sumber dari: kursuspenyiarradio.blogspot.com

Thursday, 5 September 2013

umat akhir zaman





Assalamualaikum wbt dan selamat malam.Alhamdulillah,tergerak pulak hati nak menulis.Selalunya tak ada idea sangat.Masa dekat rumah saya tak ada idea,tapi masa kat sekolah la idea tu berlambak nak keluar tapi malas nak menulis,kalau guna komputer boleh terus taip je :3 Esok sampai Selasa saya tak ada,sebab ada kenduri arwah dekat kampung.Doakan semoga perjalanan saya selamat pergi dan balik.Insyaallah.

Kadang-kadang,saya selalu terfikir.Kenapa Allah letakkan saya sebagai sebahagian umat akhir zaman?Umat Islam yang dah making hancur,yang aqidahnya dah makin rosak,baik lelaki mahupun perempuan.Dah tak ramai mujahid yang nak berjuang untuk Islam,semuanya yang ada,mengorat perempuan,suka mencarut,etc.Dan dah tak ramai dah mujahidah yang harga dirinya masih mahal,yang tunduk pandangnnya pada lelaki bukan muhrim. I'm not saying I'm perfect and exatcly,I don't live to be.Saya tahu saya bukan malaikat,saya sendiri pun sama macam umat akhir zaman sekarang ni,tapi tak salah kan kalau kita nak berusaha taat pada Allah,sama macam malaikat?

Orang mu'min yang sebenarnya ialah yang taat pada Allah dan rasul,tidak ragu-ragu dan berjuang harta dan jiwa di jalan Allah(al-Hujurat:15)

Saya bukanlah orang yang kuat dan saya akui,saya memang tak tabah.Kadang-kadang,saya menangis.Menangis bila fikir kelakuan saya sendiri,tengok umat akhir zaman.Kenapa Allah letakkan saya yang tak kuat ni pada zaman umat Islam yang aqidahnya hampir hancur?Tapi bila fikir balik,mungkin ini yang terbaik untuk saya.Saya tahu,Allah dah tetapkan yang terbaik untuk saya dan saya yakin,setiap yang Allah tetapkan ada hikmah di sebaliknya.Allah takkan bagi ujian yang melebihi tahap kemampuan hambanya.Dan ini ialah ujian Allah untuk saya.

"Ketahuilah,manusia tidak diciptakan secara main-main atau sembarangan.Manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi tujuan yang mulia"(Al Imam Al Ghazali)
Dan bila fikir balik,saya memang wajar rasa sedih.Cuba awak sendiri fikir,Rasulullah punyalah payah nak sebarkan umat Islam dengan para sahabat,kena caci maki,sampai berluka berdarah,berperang,semata-mata nak sebarkan Islam,supaya kita sama-sama menjadi muslim dan dapat menghuni syurga,dan alhamdulillah,Islam masih tersebar di pelosok dunia sampai sekarang.Tapi,kenapa kita yang menjadi muslim hari ini tak berkelakuan seperti muslim langsung?Kita dah lupakah perjuangan dakwah Rasulullah?Kalau Rasulullah tak tabah,sekarang ni mungkin kita sebahagian orang kafir yang masih sesat dan takkan pernah mengenal Allah.Dan saya sedih,walaupun hidayah tu dah ada depan mata kita,walaupun kita dah beragama Islam,kenapa kita sendiri tak amalkan ajaran Islam


sumber dari: imperfectlittlecaliph.blogspot.com

Friday, 2 August 2013

B.a.n.g.k.i.t




Setiap orang pasti mempunyai kisam silam mereka masing-masing.. manusia ada waktunya leka seketika. Ketika leka inilah kita melakukan pelbagai kesilapan. Malah kadangkala sampai berterusan. Yang paling penting tidak selamanya leka. Apabila tersedar dari ‘tidur’, janganlah membiarkan diri terus hanyut dibuai mimpi indah dunia, namun menanti azab akhirat. Setelah sedar teruslah bangkit dengan nafas yang baru, dengan memantapkan iman kita, membetulkan mana yang salah, menampung mana yang berlubang. Manusia itu diciptakan sama fitrahnya semua… mempunyai akal, hati, dan nafsu. Akal dan hati memandu diri yang sentiasa bernafsu. Nafsu ke arah kebaikan, nafsu ke arah kejahatan. Hanya dengan iman, diri terselamat dari nafsu jahat syaitan. Tanpa iman yang teguh, mudahlah kita tersimpang dari jalan lurus. Makanya, tidak hairanlah kalau manusia sering melakukan kesilapan. Dan aku sendiri tidaklah terlepas dari melakukan kesilapan itu.
“Setiap anak adam (manusia) itu melakukan kesalahan, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan (dosa) ialah mereka yang bertaubat.” (HR Ahmad dan Tirmizi)
Tapi aku sedar,tiada guna untuk menatap hari yang telah lalu. Yang penting adalah membina hidup baru dengan semangat yang kental. Tidak menoleh ke belakang lagi. Tidak terpedaya dan goyah dengan godaan dunia yang melalaikan dan bisikan syaitan yang menyesatkan!
“ Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan kejinya atau menzalimi diri mereka sendiri, tiba-tiba mereka teringatkan Allah, mereka terus memohon ampun terhadap dosa mereka dan siapakah lagi yang dapat mengampunkan dosa-dosa mereka selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui. Balasannya ialah keampunan dari Tuhan mereka.” (QS Ali-‘Imran 3: 135)

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan atau menzalimi diri sendiri kemudian beristighfar memohon keampunan nescaya ia dapati Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa’, 4: 110)
Tapi jalan taqwa itu tidak mudah diharungi tanpa iman dan keyakinan hati yang teguh. Pasti ada kata-kata nista dan tohmahan yang akan dilemparkan kepada sesiapa yang ‘sudah berubah’. Mereka suka sekali bercerita tentang kisah silam kita, masa lampau kita..yang sudah berlalu itu. Dan Wahai saudara mukminku, kuatkanlah semangat kamu dalam mengharungi lautan kata cemuhan dari mereka. Abaikan yang buruk, terima yang baik. Berlapanglah dada, maafkan mereka. Jika mereka beriman, sudah pasti mereka menjauhi perbuatan itu.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Penyayang.” (QS Al-Hujuraat, 49: 12)
“Wahai golongan yang beriman dengan lidahnya sahaja, sedang iman belum memasuki hatinya, janganlah kamu mengumpat orang-orang Islam yang lain dan janganlah kamu mengintai-intai keburukan mereka, kerana sesiapa yang mengintai-intai keburukan saudaranya, Allah akan membongkar keburukannya sekalipun ia berada di dalam rumahnya.” (HR Abu Daud)
Buat jiwa yang pernah melalukan kesilapan, jadikanlah yang sudah berlalu sebagai sempadan dan pengajaran yang bermakna. Pengalaman adalah guru yang terbaik!

[Wassini when I forgot.. sy sedar kesilapan lalu adalah kerana kelemahan diri sendiri. Everything happened makes me realize who are my true friends.. :) Kesilapan lalu banyak mengajar diri untuk selalu mendidik hati ini agar selalu dekat dengan Allah..kerana bila hati sudah berpaut utuh pada-Nya, diri bisa menepis bisikan syaitan yang cuba menyesatkan diri dari jalan yang benar…insyallah. Wassini when I forgot.)   



sumber dari: firdausnurul.blogspot.com

the easiest thing to believe....is...




-WEIRD BUT TRUE! : more people these days believe in
gossips and the media than what has been written in the holy Qur'an-


"O ye who believe! If a wicked person comes to you with any news, ascertain the truth, lest ye harm people unwittingly, and afterwards become full of repentance for what ye have done."
[QS al-Hujuraat, chapter 49, verse 6]
~*~*~*~
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
[QS al-Hujuraat 49:6]


sumber dari: firdausnurul.blogspot.com

Wednesday, 17 July 2013

Participation of the Inner Self




Reading the Qur'an, the tilawah, must involve your whole 'person'. 



Only thus will you be able to elevate your encounter with the Qur'an to the level where you can be called a 'true' believer in the Qur'an (al-Baqarah 2: 121).

What is the Heart?

The more important part of your 'person' is your inner self. This inner self the Qur'an calls the qalb or the 'heart'. The heart of the Prophet, blessings and peace be on him, was the first recipient of the Qur'anic message:

Truly it has been sent down by the Lord of all the worlds, the Trustworthy Spirit has alighted with it upon your heart [O Prophet], that you may be one of the warners ... (al-Shu'ara' 26: 1924).

You will therefore reap the full joys and blessings of reading the Qur'an when you are able to involve your heart fully in your task.

The 'heart', in Qur'anic vocabulary, is not the piece of flesh in your body, but the centre of all your feelings, emotions, motives, drives, aspirations, remembrance and attention. It is the hearts which soften (al-Zumar 39: 23), or harden and become stony (al-Baqarah 2: 74). It is they which go blind and refuse to recognize the truth (al-Hajj 22: 46) for it is their function to reason and understand (al-A'raf 7: 179;al-Hajj 22: 46; Qaf 50: 37). In hearts, lie the roots of all outward diseases (al-Ma'idah 5: 52); they are the seat of all inner ills (al-Baqarah 2: 10); hearts are the abode of Iman (al-Ma'idah 5: 41) and hypocrisy (al-Tawbah 9: 77). It is the hearts, again, which are the centre of every good and bad thing, whether it be contentment and peace (al-Ra'd 13: 28), the strength to face afflictions (al-Taghabun 64: 11), mercy (al-Hadid 57: 27), brotherly love (al-Anfal 8: 63), taqwd (al-Hujurat 49: 3; al-Hajj 22: 32); or, doubt and hesitation (al-Tawbah 9: 45), regrets (Al 'Imran 3: 156), and anger (al-Tawbah 9: 15). 


Finally it is, in reality, the ways of the heart for which we shall be accountable, and only the one who brings before his God a sound and whole heart will deserve to be saved.

God will not take you to task for a slip, but He will take you to task for what your hearts have earned (al-Baqarah 2: 225).

The Day when neither wealth nor children shall profit, [and when] only he [will be saved] who comes before God with a sound heart [free of evil] (al-Shu'ara' 26: 88-9).

You must therefore ensure that so long as you are with the Qur'an, your heart remains with you. The heart not being that piece of flesh but what the Qur'an calls qalb.

This should not prove difficult if you remain conscious of a few things and observe certain actions of heart and body The seven prerequisites described earlier lay the foundation for the fuller participation of your inner self in reading the Qur'an. In addition to these, the taking of a few more steps will greatly increase the intensity and quality of this involvement of the heart.




sumber dari: afifichestclinic.ning.com

Monday, 1 July 2013

Akhlak Mukmin dalam Surah Al-Hujurat (ayat 11)






Terjemahan:

1. Wahai orang-orang yang beriman!
2. Janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) mencemuh dan merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka;
3. dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka;
4. dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengahnya yang lain;
5. dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk. (Larangan-larangan yang tersebut menyebabkan orang yang melakukannya menjadi fasik, maka) amatlah buruknya sebutan nama fasik (kepada seseorang) sesudah ia beriman.
6. Dan (ingatlah), sesiapa yang tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiknya) maka merekalah orang-orang yang zalim.

Sebab Turun Ayat (Asbab Al-Nuzul):

Sebab turunnya bahagian awal ayat ini ialah bila sekumpulan sahabat dari bani Tamim mempersendakan Bilal bin Rabah, Salman Al Farisi dan Ammar bin Yasir yang kesemuanya adalah bekas hamba. Dalam ayat ini Allah (SWT) menegaskan kepada orang beriman bahawa di sisi Allah (SWT) Bilal, Salman dan Ammar adalah lebih mulia dari golongan yang mempersendakan mereka. Allah (SWT) tidak memandang asal keturunan mereka tapi pengorbanan mereka untuk agama-Nya.

Sebab turunnya bahagian “…dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk” dalam ayat ke-11 ini adalah sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadis yang dilaporkan oleh Abu Jubayrah ibn Ad-Dahhaak di mana satu ketika Rasulullah (SAW) pernah memanggil seorang sahabat dengan nama yang biasa beliau dipanggil, maka beberapa sahabat yang lain memberitahu Rasulullah (SAW) sebenarnya sahabat yang dipanggil itu tidak berapa menyukai panggilan tersebut. Maka bahagian ayat ini pun diturunkan tidak lama kemudian. Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud.

Wallahua’lam


sumber dari: hasbiemuda.wordpress.com

Wednesday, 5 June 2013

KEMBALI KEPADA AL QUR’AN



BismillahirRahmanirRahim




Kemuliaan tidaklah terletak pada nasab, harta, dan jabatan. Namun ketakwaanlah yang menentukan mulia atau tidaknya seorang hamba di hadapan Robbul alamin. Maha benar Allah dengan firmannya dalam surat Al Hujurat :13,


“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”
Dan hanya orang-orang yang bertakwa pula lah yang menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman atau petunjuk dalam kehidupannya, mereka tidak ragu sedikitpun terhadap kebenaran yang terkandung di dalam Al Qur’an


Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,(QS 2:2)


Sudah jelas bagi kita jalan untuk meraih kemuliaan di mata Allah sebagai robb semesta alam yang menciptakan kita serta mengatur segala urusan kita. Yaitu dengan menjadi pribadi yang bertakwa, dan telah kita ketahui pula Al Qur’an lah pedoman untuk meraih kemuliaan tersebut. Al Qur’an sebagai risalah yang dibawa oleh Muhammad saw sebagai khotimul anbiya datang untuk menyempurnakan ajaran-ajaran terdahulu menjadi satu-satunya kitab yang wajib diikuti oleh umat Muhammad saw di manapun dan kapanpun. Pada suatu Umar bin Khattab ra datang kepada Rasulullah saw dengan sebuah kitab yang diperolehnya dari Ahli Kitab, Rasulullah saw pun marah kepada Umar ra seraya berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya Musa as masih hidup, niscaya dia akan mengikuti aku.”

Selain itu Al Qur’an juga berbeda dengan kitab-kitab terdahulu, Al Qur’an terbebas dari perubahan, pengurangan, atau penambahan yang dilakukan oleh pengikutnya. Allah telah menegaskan komitmenya selain menurunkan Al Qur’an, juga menjaga kemurniannya sampai hari kiamat kelak. Dimudahkan hamba-hambanya untuk menghafal Al Qur’an bahkan oleh anak-anak sekalipun, sehingga sekalipun seluruh mushaf di muka bumi ini dimusnahkan Allah masih menjaganya dalam hafalan sebagian hambanya.


Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya(Al Hijr:9)
Selain itu Allah menegaskan bahwa Al Quran bukanlah sebuah syair atau mantra sihir melainkan wahyu sekaligus bukti kenabian Muhammad saw yang lebih agung atas keduanya. Allah menantang orang-orang yang tidak percaya kebenaran Al Qur’an agar mereka membuat sesuatu yang semisal Al Qur’an atau jika tidak mampu satu surat atau satu ayat saja yang serupa dengan Al Qur’an dalam keindahan bahasa dan makananya.


dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.(QS 2:23)
Seorang nabi palsu pada zaman khalifah Abu Bakr Ash Shiddiq ra Musailamah alkadzzab pernah mencoba meniru surat Al Fil dengan surat yang dikarangnya, “Alfiil, maal fiil, wa maa adrakamaal fiil, lahu dzanabun wabiilun, wa khurthuumun thawiil”. Lalu di lain kesempatan ketika bertemu dengan sahabatnya Amr bin Ash, dia mencoba meniru surat Al Ashr yang ketika surat itu diturunkan Amr bin Ash belum masuk Islam namun sudah mendengarnya. Musailamah bertanya kepada Amr bin Ash, “Surat apa yang turun kepada sahabatmu di Mekah itu?” ’Amr bin Ash menjawab, “Turun surat dengan tiga ayat yang begitu singkat, tetapi dengan makna yang begitu luas.” “Coba bacakan kepadaku surat itu!” Kemudian surat Al-’Ashr ini dibacakan oleh ‘Amr bin Ash. Lalu dia merenung sejenak, ia berkata, “Persis kepadaku juga turun surat seperti itu.” ‘Amr bin Ash bertanya, “Apa isi surat itu?” Musailamah menjawab: “Ya wabr, ya wabr. Innaka udzunani wa shadr. Wa sairuka hafrun naqr. Mendengar itu Amr bin Ash yang masih kafir tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Aku sebetulnya tahu bahwa yang kamu omongkan adalah dusta.”

Di era modern ini juga terdapat usaha yang lebih gencar untuk memalsukan Al Qur’an, pada tahun 2009 sebuah penerbit asal Amerika menerbitkan Al Qur’an palsu dengan judul hard cover “Furqanul Haq” dalam tulisan arab dan “True Furqan” dalam huruf latin, usaha ini pun gagal total. Sungguh maha benar Allah dalam firmannya,


Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.
Al Qur’an juga mempunyai nilai sastra yang tinggi sebagai bukti bahwa dia adalah wahyu bukan sebuah syair ataupun mantra sebuah sihir. Suatu hari al-Walid bin Mughirah, salah satu pembesar kafir quraisy bertemu dengan Abu Bakar ra dan bertanya kepadanya tentang Al Qur’an. Setelah Abu Bakar menjelaskan, dia berkata, “Sungguh menakjubkan apa yang dikatakan oleh Muhammad. Demi Allah, apa yang dikemukakannya itu bukanlah syair, bukan sihir dan bukan pula ocehan orang gila. Apa yang diucapkannya itu benar-benar merupakan firman Allah.”

Al Qur’an juga mempunyai pengaruh yang kuat terhadap jiwa manusia sebagaimana yang terjadi pada peristiwa islamnya Umar bin Khattab ra. Dikisahkan bahwa beliau bersembunyi di balik tirai ka’bah dan mendengarkan Rasulullah saw membaca surat Al Haqqoh dan sejak saat itulah benih keislaman tertanam dalam jiwanya, dan menyatakan keislamannya setelah dibacakan surat Thoha di kediaman adik perempuannya.


Begitu juga Utbah bin Rabi’ah yang diutus kaumnya untuk menemui Rasulullah saw agar menghentikan dakwahnya. Ketika berjumpa dengan Rasulullah dibacakan kepadanya surat Al Fushilat 1-5, tersentuhlah jiwanya dan kembali kepada kaumnya dan menyuruh kaumnya untuk tidak lagi mengganggu dakwah Nabi saw.


Al Qur’an juga menceritakan kisah-kisah umat terdahulu sebagai pembelajaran atau I’tibar bagi kita semua dalam menjalani kehidupan ini. Terdapat kisah-kisah para nabi dan rosul terdahulu seperti Ayub as, Nuh as yang begitu sabar dan begitu gigih dalam menjalani ujian yang diberikan oleh Robbnya. Terdapat pula kisah-kisah kaum yang dibinasakan oleh Allah seperti kaum Ad, Tsamud atau kaum Nabi Luth as dikarenakan perbuatan dosa yang mereka lakukan telah melampaui batas.


Selain itu Al Qur’an juga meramalkan kejadian yang akan datang. Salah satunya yaitu ramalan Al Quran tentang kemenangan bangsa Romawi setelah sebelumnya mengalami kekalahan dalam surat Ar Rum ayat 1-4.


Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar-Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Romawi dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Romawi secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Romawi, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Romawi.


Terlepas dari itu semua, membaca Al Qur’an bernilai ibadah setiap hurufnya bernilai satu kebaikan dan setiap kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan.

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan الــم ialah satu huruf, akan tetapi ا satu huruf, ل satu huruf dan م satu huruf. [HR. Bukhari]

Rasulullah juga menegaskan bahwa orang yang mempelajari Al Qur’an terlebih mengamalkannya adalah sebaik-baik orang di barisan kaum muslimin.


خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari]

Karena itu alangkah baiknya dan memang sudah seharusnya kita sebagai seorang muslim menjadikan Al Quran sebagai pedoman kita dalam segala aspek kehidupan kita di dunia yang serba fana ini.


sumber dari: sekepingiman.wordpress.com